CKSPA Episode 54 – Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

0
528
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 54

Ketika Pertengkaran Diantara Kami Membawa Berkah

Saat sahur bersama keluarga Ali berkata pada adik-adiknya “guys, for now you just learn how to fasting, you can break your fast if you feel really want to break your fast. Allah wants to make easy and Allah doesn’t want to make you hard. That’s what Allah says in the surah al baqarah” lalu ia pun sedikit berceramah tetang isi surat al baqoroh pada kami.

Jujur, pengetahuan Ali (11 tahun) tentang tafsir quran, sirah rasulullah dan sahabat beserta kolerasi hikmahnya di masa kini, serta sejarah dunia dan dunia islam jauh melebihi saya, atau paling tidak setara dengan sang ayah yang juga gemar membaca. Ternyata salah satu peran yang perlu kami jalankan sebagai orang tua di awal-awal kehidupan seorang anak adalah membangun lingkungan yang kondusif untuk menjadikan mereka seorang manusia pembelajar. Setiap anak memiliki fitrah agama dan fitrah pembelajar. Fitrah ini pula yang mendorong mereka untuk terus belajar mendalami agama dengan kecepatannya sendiri.
Dulu ketika ia masih kecil, sirah rasulullah, kisah nabi dan sirah sahabat menjadi salah satu menu yang kami sajikan dalam santapan ilmu hariannya. Namun meski ia sudah menamatkan buku-buku yang membahas tentang itu, ternyata tidak membuatnya bosan untuk kembali mempelajarinya. Pertemuannya dengan seorang syeikh yang begitu dalam ilmunya membuat ia begitu jatuh cinta mempelajari islam darinya, meski hanya melalui 1-2 jam kuliah melalui internet setiap harinya. Seperti halnya mengafal quran, mendengarkan kuliah Yasir Qodhi di youtube menjadi salah satu santapan harian Ali.Setelah Ali menamatkan 100 episode sirah Yasir Qodhi ia pernah menyampaikan pada saya bahwa ia begitu menikmati mempelajari islam. Dari sirah yang ia pelajari ia bisa mengetahui asbabul nuzul dan tafsir-tafsir sebagian ayat quran. Maka ia begitu tertarik mempelajari tafsir quran. Ia menyatakan sendiri pada kami bahwa ia ingin meneruskan kebiasaannya mendengarkan kuliah agama setiap hari di youtube untuk mengikuti kuliah tafsir. Maka beberapa minggu kebelakang ia sedang begitu sangat menikmati kuliah tafsir Yasir Qodhi atau Nouman Ali Khan. Ia begitu haus akan ilmu sehingga ia belajar begitu cepat, begitu dalam, bahkan sering sekali mengajarkan kami dan adik-adiknya tentang agama.

Namun berbeda dengan ilmu dunia, ilmu agama tidak cukup jika dipelajari hanya dari buku atau media tanpa adanya guru. Bagaimanapun Ali tetap membutuhkan komunitas muslim dan merasakan persaudaraan islam. Sehingga kami tetap mengikutkannya dalam sekolah akhir pekan (sunday school) meskipun pada awalnya ada pertentangan yang memicu perkelahian antara kami dengan Ali setahun yang lalu (saat ia berusia 10 tahun).

Kami mengerti bahwa Ali merasa tidak dapat memenuhi kebutuhan belajarnya akan islam di Sunday School. Tapi kami tidak ingin membiarkan ia bersikap menyepelekan dan tidak menghargai forum ilmu yang ia jalani. Kami tidak ingin ada sebiji zarah pun kesombongan dalam dirinya ketika ia berada dalam sebuah forum ilmu yang ia wujudkan dengan pengabaian terhadap materi di kelas. Pertengkaran kami diawali oleh perintah ayahnya untuk belajar mempersiapkan ujian akhir sunday school. Ali yang terlihat menyepelekan dan tidak bersemangat mempersiapkan ujian membuat ayahnya sedikit marah. Awalanya saya hanya menyimak saat ayahnya menasihatinya. Saya pun sedang sibuk menyusui dan sudah setengah tidur karena lelah. Ali menangis dan menghampiri saya, berkata “This is not my idea to go to sunday school” Saya yang pada saat itu sedang sangat mengantuk berat pun terpancing marah dan berkata “Yes this is our idea!!! Because we are your parent!!” Setelah istigfar dan menangkan diri, saya berbicara padanya bahwa keputusan mengikutkannya pada Sunday School adalah salah satu ikhtiar kami untuk menjaga fitrahnya dalam beragama. Kami tidak mampu mendaftarkan mereka ke sekolah islam di Amerika yang luar biasa mahalnya, sementara kami juga tidak merasa mampu untuk menjadi satu-satunya guru yang membimbingnya dalam hal agama. Bagaimanapun ia membutuhkan guru dan komunitas muslim. “Oke Aa, sekarang begini saja…. Aa pikirin apa ide dari aa untuk belajar agama, kalau memang aa punya cara yang lebih baik untuk menjaga fitrah aa dan mendekatkan diri aa ke surga, ummi ikut cara aa. Silahkan aa pikirin, besok kita bicara lagi”

Keesokan harinya diskusi kami lanjutkan dalam suasana yang lebih tenang. Namun ia pun belum terlalu memiliki ide yang lebih baik kecuali mengikuti ide kami untuk belajar islam di Sunday School. “Ummi mengerti kamu punya kebutuhan yang berbeda untuk belajar agama, ummi tau kamu bosan dengan pelajaran di sunday school. Begini saja, aa niatkan sunday school sebagai forum ilmu untuk mencari keberkahan, disana kamu bisa bertemu saudara-saudaramu seislam. Ummi hanya minta kamu bersikap baik dan menghormati gurumu di dalam kelas. Sementara untuk belajar yang sesuai dengan aa inginkan, aa bisa dalami via online bersama ummi. Ummi minta aa bersabar, terkadang Allah menginginkan kebaikan di balik sesuatu meski saat ini kita berat melaksanakannya”

Setelah itu ia kami minta untuk membuat rencananya sendiri dalam mendalami agama sebagai bekal utama kehidupannya. Dari mana saja sumber yang ingin ia pelajari, berapa banyak kuliah yang ia ingin ikuti setiap pekan, kapan ia memiliki taget untuk menjadi hafidz quran, lalu berapa baris quran yang ingin ia upayakan untuk mencapai targetnya.

Sayapun meminta maaf atas sikap kemarahan saya padanya malam itu. Saya begitu sangat lelah sehingga tidak dapat mengontrol emosi saya. Ali pun sempat menutup pembicaraan kami dengan berkata “ummi i will try to not make you mad more than 3 times in 10 years” hahahaha rupanya ia menghitung kemarahan dasyat saya dalam 10 tahun kehidupannya. Seingatnya ada 3 kali kemarahan seperti ini, yaitu saat ia berbohong dan saat ia tidak bertanggungjawab.

Pada awalnya ia menjalankan rencananya sendiri dengan tidak mudah. Ia masih harus terus diingatkan untuk melaksanakannya, juga masih sulit mencapai target yang ia buat sendiri. Tapi masya Allah atas ijin Allah, lama kelamaan kesulitan itu menjadi lebih mudah. Lama kelamaan kewajiban itu menjadi kebiasaan. Lama kelamaan kebiasaan itu menjadi kebutuhan. Sehingga ketika saya bertanya di pagi hari tentang kegiatan apa yang ingin ia lakukan terlebih dahulu, ia sering memilih untuk menghafal quran. Ketika cuaca sangat dingin dan semua orang malas bergerak sarapan pagi, maka ia biasa mendengarkan kuliah di youtube di dalam selimutnya.

Saya pun sangat bersyukur pada Allah, setelah pertengkaran itu, sikapnya di Sunday School semakin lebih baik. Ia pun semakin menikmati kebersamaannya dengan saudara-saudara seiman. Apalagi saat itu ia sudah menjalankan homeschooling, sehingga sunday school menjadi ajang untuk sosialisasinya. Ketika gurunya bertanya apakah ia mau dipindahkan ke kelas khusus untuk mata pelajaran quran ke level yang lebih tinggi, Ali pun menolak dan memilih tetap bersama teman teman sekelasnya karena ia meniatkan kelas tersebut untuk memurojaah hafalan lamanya. Alhamdulillah di akhir tahun ia pun dapat kesempatan memenangkan juara 1 islamic quiz yang diselenggarakan di sekolahnya.

Ada ruang dimana kita bisa memberikan kebebasan untuk memilih antara menjalankan atau tidak menjalankan. Namun adakalanya tidak ada ruang pilihan yang bisa kita berikan kepada anak-anak ketika hal itu sudah menjadi kewajiban. Namun kita masih bisa mencari cara terbaik yang kita sepakati bersama dalam menjalankan kewajiban itu. Memiliki bekal ilmu agama adalah kewajiban setiap manusia. Jauh lebih penting dari ilmu-ilmu lainnya. Tidaklah berguna sekian keahlian yang dimiliki anak-anak kita yang mereka dapat dari sekian kursus dan lembaga pendidikan jika tidak memiliki ilmu dasar agama. Bagi kami, memberikan kesempatan bagi anak-anak dalam memperdalam ilmu agama bukan berarti mengarahkan mereka harus menjadi ahli dalam ilmu syariat. Paling tidak cukup memberikan bekal yang akan menuntun kehidupan mereka agar selamat di dunia dan akhirat. Namun ketika kami memilih cita-cita untuk mendapat kedudukan istimewa di akhirat, maka jalan dakwah adalah jalan terbaik yang paling memudahkan kita untuk meraihnya. Kita adalah dai sebelum apapun. Kita adalah dai yang pedagang, kita adalah dai yang ilmuwan, kita adalah dai yang insinyur, kita adalah dai yang menjadi guru, kita adalah dai yang direktur, apapun…apapun peran yang kelak mereka akan jalankan semoga dai adalah peran mereka yang utama.

Ya Allah alhamdulillah, terimakasih atas pertengkaran yang membawa keberkahan.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang belajar agama bersama dan dari anak-anaknya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 53 – Dari Konsep Menikah Ala Shiddiq sampai Obrolan LGBT

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here