CKSPA Episode 51 – Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

0
510
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 51

Kala Ia Mengamuk Sejadi-jadinya

Shiddiq (5) anak ketiga kami, memang anak yang berkarakter keras dan belum memiliki kecerdasan emosi dalam menghadapi masalah jika dibandingkan dengan kakak dan adiknya. Bentuk frustasinya sering sekali menguji konsistensi dan kesabaran kami sebagai orang tua. Suatu hari, Shiddiq sedang memiliki keinginan terhadap saya. Namun saat itu saya pun bersih keras berjanji baru akan membantunya jika ia sudah meminta maaf dan menyelesaikan masalah sebelumnya dengan Shafiyah. Rupanya tawar menawar itu membuat Shiddiq sangat marah. Ia mengancam akan memanjat jendela seperti pencuri jika saya tidak memenuhi keinginannya. Tentu saya mengerti ini adalah bentuknya untuk mencari perhatian. Saya pun mengabaikannya.

Merasa gagal ia semakin beraksi. Ia keluar membawa kursi, berteriak meminta adiknya membuka jendela kamar dari dalam. Kami pun terus mengabaikannya. Ia terus berteriak mengancam, lalu ia tingkatkan kehebohannya dalam mencari perhatian. Ia ambil perkakas di garasi sambil mengancam akan memecahkan jendela. Sementara kami pun terus mengabaikannya sambil saya berdoa agar Allah senantiasa melindunginya dari segala mara bahaya. Dia pun terus mencari perhatian “Ummi come here, i have surprise!” Saat Shafiyah (7) terpancing untuk melihat, ia pun tertawa sambil menunjukkan perkakas yang ia siapkan untuk memecahkan kaca. Betul saja bahwa ia hanya sedang mencari sensasi dan perhatian. Saya pun melarang semua anak merespon Shiddiq saat itu. Lalu saya berteriak dari balik kamar “Shiddiq, ummi sayang sama Shiddiq tapi ummi tidak suka cara Shiddiq minta perhatian ummi. Tidak akan ada orang di rumah ini yang berhasil meminta sesuatu dengan cara mengancam, ummi tau kamu sedang cari perhatian, kalo minta perhatian dengan cara ini, ummi akan abaikan, kalo Shiddiq mau diperhatikan ummi, lebih baik masuk ayo kita bikin Pizza bersama”. Merasa tidak berhasil menghabiskan waktu bermenit-menit diluar, ia pun menyerah masuk kedalam. Akhirnya ia pun meminta maaf atas perlakuan buruknya pada Shafiyah, kemudian saya memeluk dan menasihatinya.

Shiddiq….. Shiddiq…… memang ia anak yang lebih sering rewel saat meminta sesuatu, tapi saya dan ayahnya pun tetap bersikeras tidak akan memenuhinya kecuali ia menenangkan diri dan memperbaiki cara ia meminta. Bahkan ia pernah guling-guling di lorong mesjid karena menangis kecewa, sementara saya dengan muka “badak” terus meminta ia memperbaiki caranya dalam meminta. Tidak semua keinginannya kami kabulkan, sehingga ia sering berhenti setelah marah dalam waktu yang cukup lama karena menyerah, lalu kembali ikut aturan main dalam keluarga.

Ketika kesal menghadapi Shiddiq yang rewel, saya sering mengalihkan lisan saya dengan berdoa, walau dengan suara keras untuk menyalurkan kekesalan saya juga. Sampai suatu hari Ali pernah bilang “Ummi aku mau tantrum aja kayak Shiddiq biar didoain terus sama ummi kayak gini” Saya pun memperbaiki cara saya berdoa, menambahkan doa itu untuk anak-anak lainnya, serta mengucapkan dalam hati agar tidak menjadi seperti “hadiah” dalam berbuat kesalahan.

Saya yakin, saya masih percaya, bahwa Shiddiq melakukan itu bukan karena ia anak yang tidak baik. Ia hanya belum memiliki kesempurnaan pikiran dalam memutuskan sesuatu dengan cara yang bijaksana. Maka selain beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai orang tua, juga beristigfar atas segala kesalahan-kesalahan kami sebagai seorang anak, kami terus berusaha menyampaikan nasihat dan ajaran agama dalam sesi homeschooling islamic study setiap harinya. Pernah bahkan saya bertanya pada suami, saat Shiddiq sedang berulah “Pak, insya Allah kita gak lupa berdoa kan saat kita ‘membuat’ Shiddiq?” Insya Allah kata bapak. Saya yakin dan saya percaya, nasihat-nasihat itu insya Allah kelak akan bermanfaat bagi masa depannya, meski saat ini ia masih belum terlalu bijaksana dalam mengambil sikap saat ia menghadapi masalahnya.

Ditengah kesedihan saya melihat sikap Shiddiq, tiba-tiba lamunan saya membawa pada memori sekitar 25 tahun silam saat saya masih kecil. Teringat saat pembantu saya membasuh dan mengeluarkan pecahan kaca dari kaki kakak saya Mohammad Ibrahim yang bersimpuh darah. Kakak saya kala itu mengamuk karena ditinggal ibu bekerja. Aa aim, sapaan untuk kakak, mengamuk sejadi-jadinya kemudian menendang kaca jendela sampai pecah hanya karena ingin menyusul sang ibu yang pergi bekerja. Lalu saya teringat bagaimana kondisi kakak saat ini, apakah ketidakbijaksanaan nya menyelesaikan masalah saat ia kecil berlanjut sampai dewasa? Ternyata tidak, dibawah “gemblengan” pendidikan ayah dan ibu, ia tumbuh menjadi pemuda yang matang di usia muda. Ia adalah pengganti ayah saat sudah tidak ada, juga seorang kakak dan pemimpin keluarga yang sangat bijaksana. Ia pun kini menjadi pemimpin yang berprestasi di kantornya meski usianya masih relatif muda bila dibandingkan jejeran pemimpin lainnya. Lalu saya pun teringat bahwa saat Aa Aim seusia Shiddiq ia pun tidak mau belajar di dalam kelas saat TK, mogok masuk kedalam kelas dan lebih suka bereksplorasi di luar kelas. Tapi setelah itu ia mengukir prestasi sepanjang penjalanan belajarnya. Hampir seluruh rapor nya ia hias dengan angka 1 dalam kolom peringkat kelas.
Saya pun teringat masa-masa saat melihat karakter keras dari saudara-saudara saya saat mereka masih kecil, ternyata karakter itu kini menjelma menjadi sebuah potensi di masa depan. Mereka yang gigih mempertahankan kemauannya di masa kecil ternyata kini adalah saudara yang sangat gigih meraih prestasi dan cita-cita mereka. Kegigihan itu pula yang membuat mereka bangkit dari kegagalan saat usaha mereka bangkrut sejadi-jadinya, sehingga alhamdulillah kini mereka berada pada kondisi kemampanan.

Memori itu memberikan saya harapan dan kepercayaan bahwa dengan kesabaran, keistiqomahan memberi nasihat dan terus memberikan teladan, saya yakin Shiddiq akan lebih baik dan baik-baik saja. Saya yakin, saya percaya tidak ada anak-anak usia dini yang nakal, yang ada hanyalah mereka yang masih membutuhkan bimbingan dalam bersikap menghadapi kehidupan, serta membutuhkan waktu dalam menyempurnakan pola pikir mereka pada masa usia dimana otak mereka masih terus berkembang. Insya Allah dengan doa dan ikhtiar kita menjaga fitrahnya, mereka akan lebih baik dan baik-baik saja. Selama kita terus menjaga kehalalan harta yang masuk dalam perut mereka dan mengawali proses pembuatan mereka dengan berdoa agar syaitan tidak turut andil saat proses penciptaan mereka.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berusaha beristigfar
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 50 – Ia Bertanya, Dimana Anak-anak Bersekolah?

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here