CKSPA Episode 48 – Kala Ummi Hampir Menyerah

0
536
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 48
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 48
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 48

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 48

Kala Ummi Hampir Menyerah

“Bang… ayo bang belajar!” Ajak saya
“Wait! I want to dig a hole to China!” Kata Shiddiq sambil berlari meninggalkan worksheet sekolahnya menuju ke taman kecil tempat eksplorasi di halaman belakang rumah kami. Lalu ia mengambil pacul dan menghabiskan berjam-jam di kebun sampai bajunya kotor dihiasi tanah. Dan sekolah pun tertunda……

Dilain waktu……
“Bang terusin yuk projectnya! Tolong ambil dulu guntingnya” pinta saya. “Kemana anak ini, diminta ambil gunting kok lama sekali” pikir saya. Berapa belas menit kemudian ia sudah kembali dengan membawa sesuatu ditangannya. “Look ummi what I made! I made it for canoeing!” Kata Shiddiq dengan antusias sambil menujukan beberapa potongan rangka besi untuk tenda camping yang ia ikat dan sambung dengan tape untuk membuat dayung perahu. Dan sekolah pun kembali tertunda…..

Di lain waktu…….
“Bang ayo bang terusin sekolahnya” ajak saya. Saya cari kemana ia berada, rupanya ia memanjat lemari baju bersembunyi di dalam ruang kecil (closet). “Hi ummi! I am here!” Dan sekolah pun kembali tertunda……

Wait ummi! I wanna play robotic first! Wait ummi! I want to water the plant with my water gun! Wait ummi! I want to make tea first! Wait ummi! I want to go to the roof and rake the leaves! Wait ummi! Wait ummi! Wait ummi!…..

Begitulah suasana yang hampir setiap hari saya hadapi bersama anak saya Shiddiq yang kini berusia 5 tahun. Ia memang lahir pada tanggal yang menjadi batas terakhir usia untuk wajib bersekolah di Amerika. Meski saya tau ia belum mau bersekolah, tapi hukum yang berlaku mewajibkan kami mengikutkan sekolah atau menjalankan program homeschooling yang setara dengan level kindergarten. Lalu bagaimana ia dulu di sekolah sebelum kami memutuskannya homeschooling? Apakah ia menghabiskan kelebihan energinya dengan cara seperti ini? Ternyata tidak!! Ia adalah anak yang hampir setiap hari mendapat penghargaan dengan level tertinggi dari gurunya karena sikap manisnya di kelas. Namun ketika saya bertanya apa yang menjadi kriteria penilaian guru untuk mendapat penghargaan tersebut, rupanya karena ia selalu duduk manis dan tenang. Belakangan saya jadi mengerti bahwa ternyata ketika ia dulu bersekolah di dalam kelas ia cenderung diam, pasif, tidak aktif bertanya, tidak aktif menjawab, pikiran menerawang, lalu menguap dan mengantuk. Karena hal ini pula yang terjadi saat kini ia mengikuti live lesson languange art dan math dalam kelas virtualnya bersama guru dan teman-teman homeschooler. Sementara sebaliknya, meski banyak sekali iklan-iklan yang ia lakukan diantara waktu duduk menjalankan pelajaran homeschooling dengan metode diskusi, membaca atau menulis, Alhamdulillah proses belajar secara personal memastikan ia mengerti pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah lesson plan. Alhamdulillah, bagaimanapun semua iklan-iklan tersebut juga menjadi bagian dari pembelajarannya.

Apakah saya pernah mengalami kekesalan atau stress dalam mengajar Shiddiq? Oh tentu!! Karena saya pun seorang manusia. Apalagi murid yang saya hadapi adalah anak sendiri. Bukan hanya kesal atau stress, bahkan sesekali memeluk suami dan melampiaskan perasaan saya untuk meminta dukungan agar tidak menyerah dalam mengajarnya. Bahkan awal-awal beberapa kali menyatakan pengunduran diri saya sebagai guru kepada Shiddiq dengan menawarkannya untuk kembali bersekolah. “Bang…. Sekolah lagi aja ya! Teteh aja sama Aa yang homeschooling. Ummi gak sanggup Abang kan bisa belajar dengan tertib kalo di sekolah” pinta saya. Namun berkali-kali juga Shiddiq menolak untuk kembali bersekolah. “No I don’t want to go to school anymore. I just want to do home school. So I can learn what I want to learn and I can play what I want to play. If you put me back to school, I will make me late everyday!” Kata Shiddiq.

Butuh waktu mengumpulkan alasan untuk meyakinkan diri bahwa pilihan ini lebih baik untuk Shiddiq dibanding menyekolahkannya ke sekolah formal. Galau?? Pasti!! Kegalauan yang muncul karena kekhawatiran jika tidak dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Tapi bagaimanapun kaki ini harus terus melangkah, raga ini harus terus bergerak, dan jiwa ini harus terus bangkit. Meskipun begitu, sebagai orang tua, kami terus berusaha memperbaiki keadaan ini

Meskipun proses perbaikan ini masih terus berlangsung namun beberapa langkah perbaikan dibawah ini berusaha kami terapkan untuk membuat kondisi belajar Shiddiq lebih baik, diantaranya:
1. Pengaturan jadwal dengan win-win solution agar keinginannya untuk bereksplorasi tetap terpenuhi namun kewajibannya dalam belajar tetap ia laksanakan. Dalam kasus Shiddiq, saya memberikan kesempatan baginya untuk memilih kegiatan di pagi hari sesuai keinginannya sampai batas waktu tertentu lalu kemudian mulai belajar setelah energinya sedikit tersalurkan.
2. Melaksanakan lesson plan yang bersifat diskusi secara paralel bersama kegiatan penyaluran energinya. Dalam kasus Shiddiq misalnya, saya berdiskusi membedah buku untuk pelajaran language art sambil berkebun atau menyapu daun kering.
3. Memanggil sesekali untuk duduk beristirahat ditengah kegiatan bermain atau aktifitas fisik untuk mengerjakan worksheetnya. Misalnya, saya membawa worksheet yang harus dikerjakan Shiddiq ke kebun.
4. Tawar-menawar reward dan punishment jika kesepakatan jadwal dan tugas dalam hari itu dilaksanakan dengan baik atau tidak. Reward dan punishment didiskusikan dengan Shiddiq untuk memastikan bahwa ia tertantang dengan hal tersebut. Dalam kasus Shiddiq ia memilih reward berupa point tabungan yang bisa ia kumpulkan untuk membeli mainan kesukaannya.
5. Menyediakan sebanyak-banyaknya outlet untuk menyalurkan energi secara positif tanpa harus meminta keterlibatan kita. Sehingga meskipun Shiddiq sedang tidak mengikuti kegiatan belajar sesuai lesson plan, ia tetap berada dalam kegiatan belajar secara mandiri.
6. Menyederhanakan lesson plan yang sudah ia kuasai. Tidak berlama-lama, bertele-tele, ribet dan melelahkan agar ia merasa bosan. Kemudian menggantinya dengan kegiatan yang lebih menantang. Untuk itu, tidak semua arahan dalam lesson plan sekolah virtualnya kami kerjakan.
7. Memberikan pelajaran atau melaksanakan assessment tanpa ia disadari. Sebagai contoh, dalam kurikulum matematika kindergarten, siswa diminta mengidentifikasi objek dengan membandingkan ukuran. Maka kegiatan itu bisa dilakukan dalam konteks aktifitas yang sedang ia lakukan. Sebagai contoh membandingkan ukuran perkakas kebun yang kita gunakan.
8. Mencari sebanyak-banyaknya kegiatan yang menarik baginya, dengan memberikan syarat bahwa kegiatan tersebut dapat dilakukan setelah tugas sekolahnya selesai. Sebagai contoh, kita insya Allah pergi ke park setelah worksheet ini selesai.
9. Mengumpulkan sebanyak-banyaknya motivasi untuk memperkuat keikhlasan saya menerima kondisi anak dengan segala keunikan, kelebihan, serta kekurangannya.
10. Terus berdiskusi dan bekerjasama dengan suami dalam menghadapi keunikan Shiddiq agar saya tidak merasa berjuang sendirian.
11. Senantiasa meminta kekuatan, kemudahan, petunjuk, serta limpahan keberkahan dan akhir yang baik kepada Allah dalam menjalankan takdir yang Allah berikan berupa keunikan anak-anak.

Suatu hari saya sedang ingin menangis dan hampir menyerah mendampingi Shiddiq belajar. Saya meluangkan waktu untuk mempelajari biografi Benjamin Franklin. Seorang manusia yang memiliki banyak jasa dalam peradaban manusia dan ilmu pengetahuan. Benjamin kecil pun hanya sekolah formal sebentar, tapi ia tidak pernah berhenti belajar. Ia tidak pernah berhenti mengeksplorasi alam sekitar dan menyelesaikan masalah dalam kehidupan agar lebih baik, lebih efisien, dengan menerapkan ilmu pengetahuan yang ada atau menggali dan memunculkan ilmu pengetahuan baru. Benjamin kecil pun adalah anak yang dianggap “sulit dan berbeda” oleh orang tuanya. Berkali-kali memiliki perbedaan pilihan dengan orang tuanya. Namun ia terus berkarya dan pada akhirnya memberi kebanggaan bagi orang tuanya. Setelah mempelajari biografi Benjamin Franklin saya kembali bangkit membimbing Shiddiq. Maka seorang ibu yang lemah ini ingin terus berdoa dan berusaha mendampingi Shiddiq. Semoga kelak Allah menjadikan ia sebagai hamba sholeh yang bermanfaat bagi manusia.

Satu hal yang sangat menghibur hati saya untuk tetap bertahan menjalankan homeschooling baginya, adalah ketertarikannya yang begitu luar biasa dalam mempelajari agama. Ia sangat bersemangat saat pelajaran islamic study. Ia bisa duduk berkonsentrasi saat saya berkisah baik dari buku atau berdiskusi. Ia sangat antusias saat sesi belajar islam baik melalui film atau audio book. Hal inilah yang tidak dapat diberika oleh public school di negara sekuler seperti Amerika.

Meskipun begitu, galau, kesal, atau bahkan marah, adalah hal yang sesekali mewarnai sekolah rumah kami. Sekolah yang gurunya adalah manusia, dan muridnya juga manusia.

Santa Clara, California
Dari seorang homeschooler yang terus menerus tambal sulam melaksanakan sekolah rumahnya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 47 [Part 2] – I believe you, I still believe you, and in syaa Allah I always believe you!

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here