CKSPA Episode 47 [Part 2] – I believe you, I still believe you, and in syaa Allah I always believe you!

0
350
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 2]
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 2]
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 2]

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 47 [Part 2]

I believe you,
I still believe you,
and in syaa Allah I always believe you!

Sejak kemarahan itu, baik Ali dan kami sebagai learning coach melipatgandakan kekuatan untuk menyelesaikan tugas kami di minggu terakhir semester 1. Dalam seminggu terakhir kami mendampingi Ali dengan ekstra ketat dari pagi sampai malam. Kami memastikan ia mengumpulkan semua portofolio yang besifat wajib, assessment online dan offline semaksimal yang ia bisa lakukan dari bangun tidur hingga sebelum tidur. Sebagai seorang ibu yang lebih halus perasaannya, rasanya saya ingin memilih mengorbankan nilai semeseternya saja. Biarlah ia belajar dari kesalahannya dengan melihat nilai rapor yang tidak memuaskan. Tapi ternyata tidak bagi ayahnya! Tidak bagi laki-laki. “Tidak!! Kerjakan semaksimal sampai batas terakhir harus mengumpulkan!”
Maka Ali melewatkan minggu itu dengan kerja keras. Bahkan kami mendampinginya sampai pukul 00:00 pada batas waktu ia harus menyelesaikan kewajiban sekolahnya. Sampai batas terakhir semester 1, masih ada beberapa kewajiban yang belum selesai. Sistem sekolah virtual memberikan celah-celah pilihan untuk melewatkan beberapa materi atau tugas pendalaman, sehingga tidak semua program harus dijalankan sepenuhnya. Namun saat itu, ayahnya betul-betul ingin memberikan pelajaran berharga baginya. Ayahnya tetap meminta ia terus menyelesaikan kewajibannya meski batas waktu pengumpulannya telah habis.

Melewatkan waktu 2 minggu dengan kerja ekstra tidak hanya melelahkan fisik namun juga emosi. Tidak hanya Ali begitu juga kami sebagai orang tua. Penyesalan dan perasaan kesal Ali terhadap keadaan ini memunculkan emosi-emosi negatif saat bersikap. Ia begitu sangat sensitif dan uring-uringan. Saya terus berusaha menahan lisan saya untuk tidak menyerang menyalahkannya. Setiap kali ia terlihat menyerah saya berusaha mengingatkannya bahwa ia telah memilih menyelesaikan kewajibannya dengan cara seperti ini. Maka saya terus memintanya untuk menyelesaikan pilihannya. Sikapnya menjadi kurang ramah terhadap saya. Bahkan pelukan saya pun dibalas dengan penolakannya.

Sampai suatu hari kejadian bersejarah kami alami. Diawali dengan tantrum Ali yang mendorongnya bersikap kasar kepada adiknya saat ia memiliki sedikit perselisihan. Ali tidak pernah seperti itu, maka saya mengerti bahwa sikapnya muncul dari kelelahan emosinya. Namun ternyata tidak hanya Ali yang mengalami kelelahan emosi, tapi juga sang Ayah. Melihat kejadian itu sang ayah menjadi marah. Marah dengan kemarahan yang tidak pernah kami lihat seumur hidup kami. Kemarahan yang tidak hanya sekedar saya ingatkan dengan beristigfar tapi dengan “A’udzubillahi Minas syaitonirrojiim” Kemarahan yang mungkin telah beliau tahan hampir berminggu-minggu lamanya.

Alhamdulillah Allah masih sayang pada keluarga kami. Hampir saja syaitan merenggut keharmonisan keluarga kami. Allah masih menjaga keluarga kami sehingga kedua belah pihak segera menahan amarahnya dan menenangkan diri. Namun Ali menangis sejadi-jadinya ke luar pintu rumah. Saya begitu khawatir kemarahan sang ayah melukai hatinya. Saya ijin kepada suami untuk keluar menemuinya. Namun sang ayah memerintahkan saya untuk tetap dirumah dan memberikan kesempatan bagi Ali untuk menenangkan dirinya. Sebagai istri tidak ada pilihan selain taat. Namun sebagai seorang ibu saya begitu khawatir kesedihan Ali akan membuat ia melakukan hal-hal yang tidak wajar. Hanya doa yang bisa saya ucapkan saat itu agar Allah senantiasa menjaga keluarga kami dan memberikan keberkahan serta akhir yang baik dari masalah ini.

Bapak pun meminta ijin keluar rumah untuk menenangkan dirinya. Namun saya memohon padanya untuk tetap menenangkan dirinya didalam rumah dan memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbicara pada Ali. “Tolong ijinkan ummi berbicara pada anak kita” pinta saya.

Alhamdulillah ternyata Ali sedang menangis didalam mobil. Menangis dengan tangisan sejadi-jadinya. Saya membujuknya untuk masuk ke dalam rumah tetapi ia tidak mau. Saya begitu khawatir kemarahan kami melukai hatinya. Namun ternyata tangisan itu bukanlah karena karena kemarahan kami.

Ali: “this is all my fault! But I didn’t mean to cheat you about my prosentage. I take my lesson in semester 2 before you said that was not allowed. But you kept talking”
Ummi: oke ummi minta maaf soal itu. Ini juga bukan salah kamu sepenuhnya, ini salah ummi juga”
Ali: “no you didn’t. This is all my fault ”
Ummi: “no, ini salah ummi juga. Peristiwa ini gak akan terjadi kalo ummi selalu detail memeriksa pekerjaan dan progres sekolah kamu”
Ali: “No this is all my fault! That just because I always make you believe me!”
Ummi: “ya tentu ummi percaya kamu, karena kamu anak ummi. No! Ini salah ummi, seharusnya ummi lebih detail memeriksa pekerjaanmu”
Ali: “No! This is all my fault! That just because I told you that there was no offline assessment in that day”
Setelah ia jujur bahwa selama ini ada yang ia sembunyikan untuk menghindari kewajibannya. Lalu saya menceritakan bahwa setiap orang pernah salah, dan yang terpenting ia mau belajar dari kesalahannya. Lalu saya pun bercerita tentang kisah masa lalu saya bahwa saya pun pernah berbuat salah.
Ummi: “semua orang pernah salah, yang penting kita mau belajar dari kesalahan itu. Yuuk, sudah kita pulang yuk!”
Ali masih tetap menangis tersedu-sedu.
Ali: “but I didn’t learn from my mistake”
Ummi: “I believe you can learn from your mistakes”
Ali: “but I didn’t learn from my mistake”
Ummi: “but I believe from now and on you can learn from your mistake. I believe you! I still believe you and insya Allah I always believe you, because you are my son!”

Pembicaraan itu diulang berkali-kali. Berkali-kali ia menghukum dirinya dan menunjukan penyesalannya bahwa ia tidak belajar dari kesalahannya. Namun berkali-kali juga saya menjawab bahwa saya mempercayainya karena dia anak saya.

Akhirnya Ali bersedia masuk kerumah. Segera saja saya menceritakan percakapan kami dengan ayahnya. Lalu memohon kepadanya untuk mengakhirkan “pelajaran” berharga ini dengan tidak meminta Ali menyelesaikan sekolahnya. Alhamdulillah, memang hanya ini yang ayahnya inginkan. Ali belajar dari kesalahannya.

Kami menemuinya di dalam kamar dalam keadaan sedang menangis. Seketika kami datang Ali memeluk ayahnya dan berkata “I am so sorry”. Tak kuat air mata ini menangis ketika sang ayah memeluknya kembali dan berkata “bapak juga minta maaf tadi sangat marah. Bapak itu tidak tahan akhir-akhir ini kamu bersikap tidak ramah sama ummi dan barusan kasar pada Shiddiq. Kalo kamu sedang tantrum dan kesal, apalagi keadaan ini terjadi karena pilihan kamu, jangan kamu lampirkan kekesalan pada semua orang di rumah ini” Lalu kami pun mengakhiri dengan berpelukan dan menangis bertiga serta menutup peristiwa ini dengan liburan keluarga.

Sebulan kemudian sebuah surat datang kerumah. Surat itu adalah rapor semester dari sekolah virtual Ali. Ketika kertas itu dibuka, tidak ada huruf lain dalam nilainya selain huruf A.
Ummi: “Ali kerja kerasmu terbayar, barakallah nak semua nilainya A” kami pun berpelukan bahagia.
Ummi: “tapi Ali masih mau menebus nilai ini dengan mengakhirkan di akhir semester dan begadang lagi?”

Alhamdulillah ia tidak mau mengulanginya. Kini kami pindah sekolah ke sekolah virtual yang lain. Sekolah yang kegiatan dan kurikulumnya lebih disukai Ali. Sistem pengontrolannya lebih baik sehingga tidak memungkinkan terjadi ketidakimbangan porsi pengambilan lesson plan seperti sekolah sebelumnya karena orang tua selalu mendapat informasi bila ada overdue lesson yang tidak diselesaikan anak dalam satu minggu. Kini program homeschooling Ali dipegang sepenuhnya oleh ayahnya. Sementara saya hanya fokus pada program homeschooling anak-anak lainnya. Alhamdulillah 2 bulan sudah berlalu, kini Ali tidak pernah menunda sekolahnya, tidak terlalu banyak menjeda sekolahnya dengan kegiatan lain sebelum ia menyelesaikannya, serta selalu berusaha menyelesaikan semua lesson plan mingguannya tanpa ada yang ditunda. Setiap hari ia sesekali menelpon ayahnya di kantor membicarakan perkembangan sekolahnya, terutama mengabarkan bahwa seluruh tugasnya sudah selesai dan ia bisa bermain. Ia juga sekolah di kantor ayahnya setiap hari jumat agar bisa shalat jumat bersama. Insya Allah peristiwa ini semakin menguatkan ikatan mereka berdua.

Terkadang kita semua melakukan kesalahan. Apalagi anak-anak yang masih jauh dari kesempurnaan ilmu dan kebijaksanaan dalam mengambil langkah kehidupan. Tapi siapa lagi yang akan memberi kepercayaan kepada mereka jika orang tua mereka tidak lagi mau mempercainya. Serta siapa lagi yang akan mereka percaya jika orang tua mereka tidak dapat mereka percaya? Anakku….. jika hanya ada 2 orang manusia yang masih mempercaimu, insya Allah itulah kami. Namun bagi ummi tetaplah “this is my fault!”

San Jose, California
Semoga tulisan ini dapat diambil ibroh nya agar tidak melakukan kesalahan seperti kesalahan yang kami lakukan.
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 47 [Part 1] – Kala Nasihat Menjadi Terdengar Saat Terjerembab Dalam Lubang

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here