Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 46

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 46

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 46

Bukan Hanya Salah Mereka Ketika Mereka Menjadi Pecandu

Malam itu, insya Allah malam yang diberkahi. Malam yang terindah yang saya lewati berdua dengan Ali yang kini hampir memasuki usia akil baligh. Malam dimana kami sebagai orang tua diberi sekian kali kesempatan oleh Allah untuk terus memperbaiki diri. Malam dimana tangisnya tertumpah, perasaannya tercurah, ganjalannya terurai dan keinginannya terucapkan. Sebuah pembicaraan yang saya mulai karena keingintahuan saya tentang apa yang menjadi harapannya sebagai seorang anak saat itu dan mengapa ia terus menerus ingin memainkan games multimedia yang tidak kami ijinkan. Sebuah games peperangan yang sedang marak dikalangan anak-anak seusianya saat itu.

Adalah sebuah pilihan kami sebagai orang tua untuk memilah dan memilih agar anak-anak selalu berada dalam kegiatan yang berfikir dan berdzikir namun tetap dalam suasana yang menyenangkan. Sehingga tidak semua hal yang populer dikalangan teman bermain anak-anak, kami berikan di dalam rumah. Sebagai orang tua kami selalu berusaha menyediakan berbagai fasilitas belajar dan bermain yang positif untuk menyalurkan bakat dan minat anak-anak. Sebagai orang tua kami berusaha menyediakan dan mengarahkan mereka pada berbagai kegiatan positif sehingga anak-anak tidak menyalurkan energi mereka pada hal-hal yang sia-sia apalagi bermaksiat kepada Allah. Namun dalam perjalanannya tentu ada berbagai tantangan yang harus kami hadapi.

Adalah sebuah hal yang alamiah bahwa perilaku dan pemikiran manusia dalam menjalankan kehidupan sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang diadopsi dari lingkungannya. Begitu juga dengan anak-anak, terlebih bagi mereka yang menginjak usia menjelang baligh. Saya sangat mengerti karena saya pun pernah berada pada usia ini. Saya sangat mengerti bahwa di usia menjelang akil baligh, anak-anak mulai berkelompok dalam bermain. Mereka mulai mencari sebuah tema eksistensi diri yang membuat diri mereka terlihat “keren”. Ada kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak seusia ini ketika mereka memiliki tema pembicaraan yang sama, kesukaan yang sama, kegiatan yang sama, termasuk dalam pilihan games multimedia. Hanya saja sekali lagi, sebagai sebuah keluarga kami harus memilah dan memilih kegiatan apa saja yang dapat dilakukan anak-anak bersama teman-temannya. Kami berusaha mencari kegiatan yang membuat mereka tetap dapat merasakan kebersamaan bersama teman-teman tanpa harus mengorbankan keyakinan yang kami anut dalam keluarga. Dan sekali lagi kami tegaskan, bahwa tidak semua hal yang populer di kalangan anak-anak seusia mereka dapat menjadi kegemaran, kebiasaan, apalagi pola hidup anak-anak. Terkadang hal ini tidak mudah diterima anak-anak. Butuh kesempatan untuk memberikan pengertian tentang mengapa kita memilih dan memilah hal-hal tertentu. Butuh menyediakan berbagai aktifitas alternatif yang dapat memberikan kebahagiaan lebih bagi anak-anak yang tetap sesuai dengan keyakinan yang kami anut.

Lalu mengapa? Mengapa Ali masih juga ingin menjadikan bermain games multimedia bertema peperangan sebagai hiburan baginya. Bukankan ia bisa memilih olahraga apa saja dengan fasilitas publik yang tersedia di tempat kami tinggal ? Bukankah peralatan olahraga juga kami sediakan untuk ia mainkan? Bukankah berbagai mainan edukatif juga kami sediakan di rumah? Bukankan software-software games edukatif yang bersifat merancang juga kami sediakan di dalam rumah? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong saya untuk mengawali pembicaraan kami malam itu. Hampir setengah malam kami lewati untuk mendengarkan semua perasaannya, mendengarkan berbagai cuplikan kisah yang terekam dalam memorinya. Alhamdulillah sebuah kesimpulan berharga saya dapat dari pembicaraan kami malam itu. Bahwa ia begitu merindukan bermain kembali bersama ayahnya sebagaimana ia bermain bersama ayahnya sewaktu kecil. “I just remember that before I was 7 years old, bapak played with me and after that we have a lot of new member in family….. bla…bla…bla” Tangis saya pun tumpah. Pemudaku merindukan bermain bersama ayahnya. Sementara selama ini, bukan karena sang ayah tidak memiliki waktu bermain bersama anak-anaknya. Namun terlalu banyak anggota keluarga baru yang harus bermain bersamanya dalam waktu singkat yang ia miliki. Pembicaraan itu saya tutup dengan sebuah janji, bahwa saya akan menyampaikan perasaannya kepada sang ayah.

Malam itu juga, saya tak mampu membendung kata-kata untuk segera mengungkapkan kepada sang ayah. Dengan sangat hati-hati saya menyampaikan kepada sang ayah agar pembicaraan ini dapat dilakukan tanpa menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Mata sang ayah pun berkaca-kaca dan dengan terbata-bata ia berkata “bapak bukan tidak mau bermain bersama Ali, ummi ingatkan bahwa apa yang bapak mainkan bersama adik-adiknya Ali adalah sama dengan apa yang bapak lakukan dulu saat ia kecil. Bapak membacakan buku untuk adik-adiknya, kita pun dulu membacakan buku sebelum ia bisa membaca. Bapak hanya bingung harus bermain apa sama Ali karena ia sudah semakin besar. Maka selama ini kita hanya membelikan mainannya saja” Alhamdulillah kini saya mengerti dimana letak masalahnya. Bukanlah segunung fasilitas mainan yang diperlukan untuk memuaskan kebahagiaan anak-anak. Tapi mereka ingin waktu istimewa untuk melakukan kegiatan bersama dengan orang tuanya.

Keesokan paginya Ali menemui saya, ia bertanya apakah saya sudah menyampaikan perasaannya terhadap ayahnya. Lalu ia tersenyum dan tertawa saat ia mendengar jawaban sang ayah. Ketika keluar rumah, ternyata sebuah box paket besar pun datang berisi mainan untuknya. “Tuh kan….. bapak sayang kan sama aa, tuh buktinya bapak belikan lagi kejutan mainan baru untuk aa”

Sejak saat itu, saya rapat bersama bapak. Kami mencari tema permainan apa yang bisa menjadi kesamaan hobby antara bapak dan Ali. Sebuah tema kegiatan dimana mereka memiliki bahan pembicaraan dan diskusi diluar urusan prestasi dan pelajaran sekolah. Agar pertanyaan yang digulirkan malam hari ketika ayah pulang tidak melulu seputar bertanya tentang bagaimana tugasnya, bagaimana sekolahnya, bagaimana hafalan Al-qurannya. Kebetulan kedua pangeran saya sangat hobby “ngoprek”, baik software maupun hardware. Sejak saat itu kami menginvestasikan beberapa fasilitas robotic agar Ali dan ayahnya bisa “mengoprek” bersama, mendiskusikan rancangan, mencoba dan memperbaiki rancangan. Hampir setiap pulang kantor, dengan semangat dan tak sabar ia berdiskusi tentang rancangan robotiknya. Baik yang ia pelajari dari orang lain maupun hasil inovasinya. Mereka kini menemukan bahasa yang sama untuk melewati kehangatan malam dalam acara kumpul keluarga. Bukan sekedar duduk dalam ruang keluarga dan sibuk mengerjakan pekerjaan atau permainannya masing-masing. Telah berbulan-bulan berlalu, tanpa ia mencari games multimedia yang hampir saja menjadi obat bagi rasa kesepiannya. Dan tidak hanya itu, berbagai perilaku positif pun muncul menggantikan perilaku yang selama ini menjadi PR kami sebagai orang tua.

Setiap manusia akan memilih peran sebagai eksistensinya dalam kehidupan. Semoga Allah senantiasa mencukupkan kepuasan hati anak-anak kami dengan eksistensi mereka sebagai manusia pembelajar yang sholih, muslih, penjaga Al-quran yang produktif berkaya dan memberi kebermanfaatan bagi ummat manusia tanpa harus selalu menjadi sama dengan apa yang populer di kalangan mereka. Terimakasih Allah, untuk sekian permasalahan yang Engkau berikan kepada kami melalui anak-anak, yang membuat kami senantiasa berusaha menjadi orang tua lebih baik lagi. Maafkan kami nak!

San Jose, California
Dari orang tua yang berkali-kali salah sebagai orang tua
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 45 – Ummi, When You Work, Sometimes I Feel So Bad

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSPA Episode 46 – Bukan Hanya Salah Mereka Ketika Mereka Menjadi Pecandu"

Your email address will not be published.