CKSPA Episode 40 – Ketika Buku Layaknya Sepotong Kue Baginya

0
296
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 40
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 40
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 40

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 40

Ketika Buku Layaknya Sepotong Kue Baginya

Allahummabarik! melihat perkembangan anak kami, Ali (11 tahun) yang memiliki kemampuan otodidak dalam belajar, kami begitu bersyukur atas karunia yang Allah berikan ini. Kemampuan otodidak dalam belajar yang dimilikinya sangat memudahkan kami untuk mengarahkannya dalam kebaikan serta meningkatkan produktifitas dalam kehidupannya meski usianya belum menginjak remaja. Bagaimanapun kami sebagai orang tua memiliki keterbatasan ilmu dalam mengantarkan anak-anak kami menuju pribadi yang kami cita-citakan. Namun dengan kemudahan akses informasi dari internet serta banyaknya sumber ilmu pengetahuan dari buku, sangat memudahkan anak-anak kami untuk belajar langsung dari para maestro. Melihat Ali yang kini dapat belajar secara homescholing tanpa perlu banyak bimbingan secara langsung membuat kami semakin sadar bahwa menjadikan anak-anak sebagai manusia pembelajar yang haus akan ilmu pengetahuan adalah sebuah investasi yang begitu berharga. Dengan kecintaan Ali terhadap kegiatan menggali ilmu khususnya melalui buku menjadikannya mampu mempelajari hal-hal yang wajib dipelajari serta yang ingin ia pelajari secara mandiri.

Sebagai keluarga muslim yang tinggal di USA dimana sekolah yang diselenggarakan pemerintah sama sekali tidak memberikan pelajaran agama, maka kami wajib mencari sarana yang memberikan kesempatan bagi anak-anak kami untuk dapat mengenal dan memperdalam ilmu agama. Sebuah ilmu yang wajib dimiiliki setiap muslim sebelum memperdalam ilmu-ilmu lainnya. Namun, sebagai orang tua yang minim akan ilmu agama, kami merasa tidak mampu untuk membimbing sepenuhnya pemahaman agama anak-anak kami. Alhamdulillah dengan kemudahan fasilitas internet khususnya youtube, memudahkan kami dan anak-anak kami untuk mempelajari ilmu agama langsung dari para syeikh dan profesor yang ahli di bidangnya. Setiap hari dalam kegiatan homeschooling, Ali memiliki waktu khusus untuk mengikuti kajian agama islam terkurikulum dari Syeikh Yasir Qodhi yang diselenggarakan oleh Memphis Islamic Center melalui rekaman yang ditayangkan di youtube. Mengkuti kuliah ini lebih memuaskan kebutuhan Ali dalam mendalami ilmu agama dibanding mengikuti pelajaran agama islam tingkat sd atau smp di sekolah formal di Indonesia maupun Islamic Sunday School di USA. Untuk mengetahui tingkat pemahaman Ali dalam mengikuti kajian ini, ia pun menuliskan resume kajian untuk didiskuskan dengan kami.

Dalam mempelajari ilmu umum dan mengembangkan minat bakatnya seperti dalam dunia programming, robotic dan proyek engineering sederhana, kecintaan Ali dalam membaca buku menjadi modal utama baginya untuk dapat belajar secara mandiri. Sebagai seorang coach, saya hanya berperan sebagai manager kelas baginya. Saya memastikan semua tugas dilakukan pada waktunya, mengatur alokasi waktu dalam kegiatan belajar mengajar, mengatur sumber belajar, dan dengan bermodalkan kunci jawaban dari buku pelajaran, saya melakukan pemeriksaan dan penilaian. Sebagai seorang coach saya bukanlah seorang yang serba tahu, dan mengajarkan semua pelajaran kepada Ali. Ali mempelajari ilmu yang wajib dipelajari, perlu dipelajari, dan yang ingin ia pelajari langsung dari ahlinya melalui buku dan internet. Bahkan yang terjadi adalah saya belajar dari apa yang Ali pelajari. Maka sebagai orang tua homeschooler saya bukanlah guru bagi Ali melainkan berperan sebagai manager kelasnya. Kemampuan belajar secara otodidak ini bukanlah hal yang tidak melalui sebuah proses. Investasi ini kami tanamkan sejak Ali masih kecil. Kemudian dengan cara yang semakin berkembang sejalan dengan perkembangan keadaan ekonomi dan wawasan kami selaku orangtua, kamipun mendidik adik-adik Ali untuk menjadi seorang manusia pembelajar seperti Ali.

Kami merasa ingin memiliki keleluasaan dalam mengarahkan proses belajar anak-anak kami sesuai dengan prinsip dan keyakinan yang kami anut. Melihat kenyataan praktek sekolah umum di Amerika yang di jalani oleh anak-anak kami (Shafiyah dan Shidddiq), rasanya kami ingin keluar dari sistem yang ada serta hanya memegang prinsip pendidikannya saja. Karena pada prakteknya, pembelajaran tematik yang biasanya dikaitkan dengan tema perayaan-perayaan yang menjadi kebiasaan warga Amerika seperti valentine, Halloween, thanksgiving, Easter, Christmas, terlalu membuang waktu, cenderung “lebay” dan memberikan tantangan tersendiri untuk memegang teguh keyakinan kami dalam beragama. Namun secara metode pendidikan, banyak hal positif yang dapat menjadi inspirasi bagi kami dalam melaksanakan proses pendidikan anak-anak kami.

Inspirasi yang kami dapatkan selama kami merasakan bersekolah di Amerika adalah bagaimana semua proses belajar yang dilakukan mampu mengantarkan para murid menjadi seorang manusia pembelajar yang berpikir kritis, mampu mengatasi masalah secara mandiri, dapat bekerja secara efektif dalam tim, dapat berkomunikasi secara jelas, serta memiliki pengaruh dalam berkomunikasi. Pada setiap proses belajar, murid memiliki kemampuan untuk memilih informasi serta menilai kualitas informasi. Dengan informasi dan berbagai sarana yang ada murid mampu menggabungkan pengetahuan dan melakukan analisa. Harapannya setiap murid dapat menghasilkan sesuatu yang original, mengikuti setiap petunjuk dalam proses belajar secara seksama namun mampu melakukan improvisasi. Sehingga pada akhirnya mereka mampu menciptakan sesuatu yang praktis, relevan dan bermakna bagi ilmu pengetahuan. Prinsip pendidikan inilah yang menyebabkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi banyak muncul dari negara Amerika. Tentunya akan sangat berbeda bila dibandikan dengan hasil kualitas manusia yang muncul dari sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk lulus ujian nasional.

Sebagaimana ayat pertama Al-Quran yang turun yaitu perintah “iqro”, kegemaran membaca, kemampuan memahami isi bacaan dan mengolah informasi sumber bacaan menjadi modal utama dalam melahirkan manusia pembelajar. Hal inilah yang ingin kami capai dalam madrasah rumah kami. Salah satu rezeki yang Allah berikan kepada keluarga kami dengan hijrah ke USA adalah mendapatkan seluas-luasnya akses ilmu pengetahuan secara gratis melalui perpustakaan. Sesuatu yang sebelumnya harus kami bayar dengan mengeluarkan puluhan juta rupiah untuk membangun perpustakaan kecil di rumah kami di Kota Batam, kini Allah memberikan secara gratis dan berlipat-lipat dari apa yang kami investasikan sebelumnya. Maka keluarga kami memiliki kebiasaan berkunjung ke perpustakaan minimal 1 kali seminggu dan meminjam puluhan buku setiap minggunya. kegiatan membaca adalah bagian dari keseharian hidup kami yang tidak pernah terlewatkan. Begitulah Ali melewati masa kecilnya sehingga puluhan lembar buku layaknya sepotong kue baginya. Saat Ali kecil, kami lebih banyak melewati kegiatan dengan membacakan buku baginya, terlebih saat itu saya banyak bedrest karena kehamilan adik-adiknya. Maka kami sangat berharap semoga kegemarannya dalam mengggali ilmu pengetahuan kelak akan memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia khususnya kemajuan agama islam. Aamiin

Melihat semangat Ali dalam belajar secara otodidak mengingatkan saya pada sebuah pembicaraan beberapa tahun lalu dari seorang kawan yang aktif menjual buku serial paket berharga jutaan rupiah yang juga kami miliki saat itu. Kawan tersebut bercerita tentang pengalamannya saat menawarkan buku pada ibu-ibu, lalu ada seorang ibu yang berkomentar “waduh mbak kalo harganya segitu mendingan kami beli emas aja” Saya pun tersentak dan tersenyum mendengarnya. Namun itulah sebagian realita dari masyarakat Indonesia. Investasi emas dianggap jauh bernilai dibanding berinvestasi dalam menumbuhkan kegemaran membaca bagi anak mereka. Setiap keluarga memiliki hak dalam menginvestasikan hartanya. Namun sebagai seorang muslim mari kita pilih investasi terbaik yag mampu memberikan keuntungan di dunia dan akhirat.
San Jose, California
dari seorang pendongeng sebelum tidur untuk anak-anaknya
Kiki Barkiah
Sumber gambar: www.ohthebooks.com


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 39 – Atas Ijin Allah Cara ini Menaklukkan Shiddiq

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here