CKSPA Episode 39 – Atas Ijin Allah Cara ini Menaklukkan Shiddiq

0
354
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 39
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 39

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 39

Atas Ijin Allah Cara ini Menaklukkan Shiddiq

Setiap masa perkembangan anak akan memiliki tantangan tersediri. Dari satu isu menuju isu lainnya. Maka proses belajar menjadi orang tua adalah sebuah proses pembelajaran seumur hidup. Baru kali ini saya memberanikan diri untuk menulis kisah tentang bagaimana kami belajar dan menerapkan ilmu dalam menghadapi Shiddiq (5 tahun) yang cukup memberikan tantangan tersendiri dalam menghadapinya. Setelah pada akhirnya Allah mengijinkan kami mendapat sebuah teknik yang cukup efektif dalam mendisiplinkannya.

Mungkin sebagian orang menganggap pengasuhan kami dirumah begitu ideal karena memiliki anak-anak yang terlihat manis dan penurut. Pernah seorang kerabat memberi testimoni saat kami berkunjung seharian kerumahnya. “Kiki, kamu ngurus anak-anak banyak tapi semua behave sekali”. Ada pula kerabat lain yang diminta tolong untuk mengasuh keempat anak kami selama 2 hari saat saya menginap di rumah sakit karena melahirkan anak kelima. Beliau memberi testimoni “Kiki asyik banget anaknya pinter-pinter, ngurusnya jadi gampang”. Padahal saat mengasuh mereka dirumah, dada sering sekali diusap untuk beristigfar. Terlebih menghadapi tingkah laku Shiddiq yang begitu sulit mengontrol emosi serta cenderung sulit mengikuti aturan yang disepakati.

Meskipun kadang terasa lelah, bingung, cemas, dan khawatir dengan perkembangan Shiddiq yang cukup berbeda dengan anak-anak lainnya, namun kami begitu bersyukur karena ia menghabiskan seluruh energi negatifnya hanya di dalam rumah. Dan hal yang membuat kami sangat bersyukur adalah karena Shiddiqlah kami bersemangat belajar menjadi orang tua.

Air mata saya hampir menetes dihadapan guru Shiddiq di sekolah. Saat kami menemuinya dalam kegiatan parent teacher conference. Begitu banyak pertanyaan tentang perilaku Shiddiq di sekolah yang ingin kami tanyakan padanya. Salah satu kekhawatiran kami adalah apakah shiddiq berperilaku “membully” orang lain saat ia merasa marah atau kecewa. Seperti yang ia sering lakukan pada saudaranya. Allahummabarik!! Hampir setengah percaya ketika gurunya mengatakan bahwa Shiddiq adalah salah satu muridnya yang begitu sempurna. Sangat baik, sangat manis, bahkan sang guru sampai terheran-heran bertanya kepada guru Shafiyah, mengapa kedua kakak adik ini begitu sangat manis dalam bersikap. Shiddiq begitu taat dalam aturan, bersemangat dalam belajar, mendengar penuh konsentrasi saat guru mengajar, aktif bertanya saat tidak mengerti, meminta bantuan saat ia merasa frustasi, aktif menjawab dan memberi pendapat, sangat penolong dan manis kepada teman-temannya. Saya pun mengutarakan keadaan Shiddiq kepada gurunya yang sangat berbeda saat ia dirumah. Bahwa Shiddiq sering mencari perhatian orang tuanya dengan membuat masalah. Shiddiq sering memicu perkelahian diantara saudara dengan ulah jahilnya. Namun jika ia merasa kecewa atau dikecewakan, ia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk ditenangkan.

Kami mengerti bahwa segala perilaku negatif yang dilakukan Shiddiq adalah cara yang dipilihnya untuk mencari perhatian kami. Meskipun kami berusaha optimal meluangkan waktu yang kami miliki untuk anak-anak, tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki banyak anak akan secara otomatis membagi porsi waktu untuk mereka. Suatu hari saya bertanya kepada Shiddiq “Shiddiq kalo di sekolah suka jahil gak? Suka berantem dan marah sama temen gak?” Shiddiq pun menjawab tidak “Lalu kenapa kalo di rumah sejak pulang turun dari bus Shiddiq jahilin Faruq terus dan sering jadi berantem? Saya pun kembali bertanya. “Karena Shiddiq kebagian waktu sama umminya cuma sedikit, kalo Faruq banyak karena Faruq sekolah sama ummi, jadi Shiddiq jahilin aja Faruqnya!”. Setiap kali Shiddiq berperilaku jahil, setiap kali itulah Faruq menjadi agresif. Lalu Shiddiq membalas dengan agresif dan “jreng-jreng” perkelahianpun terjadi.

Namun bagaimanapun masa-masa ini harus kami hadapi dan harus diupayakan agar terlalui dengan baik. Akhirnya kami mencoba mempelajari bagaimana teknik pendisiplinan siswa yang dilakukan di sekolah Shiddiq. Kami mencoba mengaplikasikan hal tersebut di rumah agar paling tidak Shiddiq merasakan suasana pendisiplinan yang sama. Selain membuat aturan yang disepakati, tugas yang jelas, pembagian jadwal yang terstruktur, pemberian apresiasi atas semua perbuatan baik, kami mengadopsi teknik pendisiplinan “clip up and clip down” yang diterapkan sekolah Shiddiq.

Semua anak memiliki klip yang tertulis namanya. Setiap pagi, klip berada pada posisi ungu. Jika anak-anak sudah menyelesaikan tugas yang harus dilakukan sampai sore hari, secara bertahap klip akan naik sampai di zona hijau (clip up). Jika semua tugas sampai malam hari telah dilakukan maka klip akan naik ke zona biru. Jika anak-anak melakukan kebaikan istimewa, klip akan terus naik sampai zona ungu atau “super squad”. Jika anak-anak tidak menyelesaikan tugasnya maka klip tidak akan bergerak naik. Jika anak-anak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain, merugikan diri sendiri, dan melanggar aturan aturan syariat maka klip akan bergerak turun ke zona warna dibawahnya. Menurunkan klip (clip down) adalah bentuk konkrit yang dapat dimengerti anak untuk memberikan tanda bahwa ia telah membuat kesalahan. Menurunkan klip juga menjadi salah satu bentuk yang menggambarkan perasaan kecewa dan marahnya orang tua tanpa harus bersikap kasar baik secara verbal maupun fisik.

Sebagaimana Rasulullah memerintahkan untuk mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik, maka untuk kembali menaikkan klip yang diturunkan maka mereka harus memperbaiki kesalahannya dan melakukan kebaikan ekstra agar klip dapat kembali ke posisi semula. Teknik ini tidak hanya efektif memberi informasi bahwa perilakunya adalah salah. Namun juga memberi penghargaan kepada mereka yang mau memperbaiki kesalahannya dan membayarnya dengan perilaku baik. Setiap anak akan berusaha menyelesaikan semua tugas setiap hari yang menjadi syarat untuk dapat menonton televisi di malam hari selama 1 jam. Setiap anak akan berusaha untuk mencapai zona “super squad” setiap hari untuk meraih hadiah mainan edukasi di akhir pekan. Mainan edukasi yang kami belikan pun murah meriah saja, hanya senilai $1. Artinya jika ia melakukan kesalahan yang menyebabkan clip down, ia harus berusaha lebih keras dengan melakukan berbagai kebaikan ekstra seperti membantu pekerjaan rumah tangga agar dapat menaikkan kembali posisi klip mereka.

Dengan teknik ini alhamdulillah sangat efektif merubah perilaku Shiddiq untuk lebih taat aturan. Juga cukup efektif untuk membuatnya menahan amarah dan mempermudah urusan dengan mengalah terhadap adik tanpa diminta. Shiddiq termotivasi untuk berbuat kebaikan karena dengannya ia akan menaikkan klipnya menuju zona super squad. “Shiddiq makasih ya Shiddiq sudah mau menahan marah dan mengalah sama adek, maklum adek masih kecil, otaknya masih 50% jadi dia belum ngerti. Karena shiddiq sudah bikin urusan kita jadi lebih mudah, Shiddiq insya Allah dapat reward dari Allah, dan dapat super squad dari ummi!!!” begitu misalnya cara kami mengapresiasi kebaikan Shiddiq.

Alhamdulillah dari waktu ke waktu Allah ijinkan kami melalui satu per satu permasalahan anak-anak. Dan permasalahan pasti akan selalu ada dengan bentuk yang berbeda sesuai dengan tahapan usia mereka. Sudah 2 bulan kami mencoba menerapkan teknik ini, alhamdulillah banyak kemajuannya. Meskipun begitu, perkelahian adalah bagian dari warna kehidupan persaudaraan dimasa kecil. Sebagaimanapun kami berusaha memberi pengertian dan menghidari pemicunya. Jika saya tanya mengapa Shiddiq berbeda antara di rumah dan di sekolah, Shiddiq pun pernah menjawab “Karena di sekolah itu tidak ada Faruq!”katanya. Itulah yang membuat saya cukup ragu untuk mengabulkan permintaan Shiddiq untuk kembali homeschooling. Karena jika Shiddiq ingin kembali Homeschooling, maka Faruq harus masuk sekolah. Hahahahha.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus belajar memecahkan masalah dalam meluruskan perilaku anak-anaknya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 38 – Strategi Syaitan Harus Dilawan Dengan Strategi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here