CKSPA Episode 38 – Strategi Syaitan Harus Dilawan Dengan Strategi

0
275
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 38
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 38
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 38

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 38

Strategi Syaitan Harus Dilawan Dengan Strategi

Pekerjaan menjadi ibu memang bukanlah pekerjaan sederhana. Seorang ibu tidak hanya bertanggungjawab sebagai manager tumbuh kembang anak-anak dan manager urusan rumah tangga, namun ia juga merupakan manager pendidikan bagi anak-anaknya. Sebagai manager pendidikan, orang tua dapat melibatkan berbagai pihak dalam mendukung proses pendidikan anak-anaknya. Sekolah, lembaga kursus, pesantren, lembaga pendidikan Al-quran adalah beberapa pihak yang dapat dilibatkan dalam mencapai tujuan akhir dari proses pendidikan anak-anaknya. Selain itu ada juga keluarga yang memilih keegiatan homeschooling sebagai basis utama pendidikan anak-anaknya. Bagi keluarga yang memilih memasukkan anak mereka ke lembaga sekolah, tentunya tidak sepenuhnya dapat lepas tangan dalam kegiatan belajar anak-anaknya. Minimal ia terlibat dalam mendampingi kegiatan belajar anak-anaknya saat mengerjakan tugas sekolah atau homework.

Dalam keluarga kami, setiap sore saya pun harus mendampingi kedua anak kami yang masih bersekolah formal dalam mengerjakan tugas sekolah. Selain itu semua anak juga harus didampingi secara langsung dalam kegiatan agama seperti materi islam, tahsin quran dan tahfidz quran. Tugas itu bukanlah tugas yang sederhana bagi saya. Terlebih semua jadwal harus dipadatkan sepulang sekolah. Berbeda dengan anak yang homeschooling, beberapa kegiatan ini masih dapat diatur di pagi hari. Singkat cerita ada suatu masa dimana saya merasa tugas saya begitu overwhelmed sebagai seorang ibu. Terlebih karena setiap sore sang bayi minta disusui, sementara Faruq yang masih berusia 3 tahun juga tidak rela membiarkan ibunya memiliki waktu khusus mengajar kakak-kakaknya. Bayangkan, hampir setiap sore saya mengajar mengaji atau memandu anak mengerjakan homework diatas kasur sambil menyusui, sementara Faruq mencari perhatian dengan lompat-lompat diatas badan saya karena mengajak saya untuk bermain. Saya merasa syeitan selalu bbekerja lebih keras untuk menggoda saat saya mengajar al-quran kepada anak-anak.

Kadang suasana seperti ini membuat saya ingin menangis karena mengingat cita-cita dan harapan kami yang tinggi terhadap anak-anak dalam hal penguasaan Al-quran. Andai saja ada TPA sore yang dapat ditempuh dengan jalan kaki seperti di mushola atau mesjid kompleks di Indonesia, mungkin saya akan memasukkan mereka di kelas mengaji setiap sore. Mengingat kondisi memiliki balita terkadang membuat saya tidak optimal mengajar al-quran anak-anak. Di Amerika, kegiatan belajar tajwid dan tahfidz di sore hari diselenggarakan di masjid-masjid. Hanya saja kami harus menggunakan mobil untuk menempuhnya. Dan bagi saya, mengajar sendiri dengan segala kerepotannya, jauh lebih mudah dibanding setiap hari mengantar mereka ke mesjid yang harus melewati highway (semacam jalan TOL).

Suatu hari kala syeitan menggoda dengan perasaan hampir menyerah, saya menelpon suami saya.
Ummi: “bapak ummi mau mengundurkan diri!”
Bapak: “mengundurkan diri apa?”
Ummi: “Mengundurkan diri jadi guru tahfidz dan tahsin anak-anak. Bapak cari saja guru lain. Ummi tidak sanggup. Bayangkan tiap sore ummi harus mengajar sambil menyusui sementara Faruq mencari perhatian untuk diajak bermain”

Namun karena bapak seorang laki-laki, bapak tidak mempertimbangkan pembicaraan “lebay” saya dengan pertimbangan emosi. Karena bapak seorang laki-laki, maka logika lebih digunakan dalam mencari solusinya.

Bapak: “oke bapak ijin pulang telat ya ada yang mau bapak beli”

Masya Allah rupanya bapak membawa pulang beberapa potong papan kayu, dan beberapa karung pasir bersih (sand play). Bapak membuatkan anak-anak bak pasir beberbentuk persegi dari 4 buah papan kayu agar saya bisa mengajar Al-quran anak-anak dengan tenang. Agar selagi saya mengajar, Faruq bisa asyik bermain pasir. Sejak saat itu saya mengerti bahwa melawan strategi syeitan harus dengan strategi. Agar saya dapat mengajar dengan lebih tenang tanpa gangguan, saya harus menyiapkan sarana untuk menyalurkan energi adik-adiknya agar tidak menganggu.

Maka kini, kadang saya mengajar mengaji dan mengawal pekerjaan homework di samping bak pasir, di sebuah kursi taman sambil menyusui. Kadang saya membawa anak-anak ke taman bermain. Anak-anak mengerjakan homework di meja makan yang disediakan di taman bermain, sementara adiknya bisa menyalurkan energinya dengan berlari, bermain bola atau bermain di playground. Kadang saya membawa mereka ke perpustakaan agar adiknya bisa asyik membaca buku saat saya mengawasi kakak-kakaknya mengerjakan homework atau mengajari mereka membaca iqro. Saya manfaatkan perjalanan menjemput anak-anak untuk murojaah hafalan quran. Baik saat memilih menggunakan stroller, sepeda dan scooter atau saat mengendarai mobil untuk keperluan yang lebih jauh. Syeitan memang punya banyak cara untuk menghalangi kita berbuat baik. Syeitan memang punya banyak cara untuk membuat kita menyerah dalam mengemban amanah. Maka strategi syeitanpun harus dilawan oleh strategi.

San Jose, California
Dari seorang hamba yang terus berusaha melawan godaan dari musuh sesungguhnya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 37 – Ketika Shiddiq Bertanya Tentang Pelukan

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here