CKSPA Episode 36 – Bila Status Janda Kelak Tiba

0
462
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 36
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 36
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 36

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 36

Bila Status Janda Kelak Tiba

Tak mampu lagi saya membendung perasaan ini untuk segera menuangkannya dalam sebuah tulisan. Setelah sebuah pembicaraan yang begitu bermakna saya lalui disela-sela kegiatan pengajian dalam komunitas di Amerika. Saya memang begitu bersemangat mendengar kisah, menggali hikmah dan membaginya dengan semesta. Begitu juga tentang pembicaraan saya hari ini dengan seorang ibu senior yang sangat saya hormati. Beliau begitu mengerti perasaan dan keadaan saya saat ini yang membesarkan anak-anak balita berjarak rapat berjumlah banyak. Karena berpuluh- puluh tahun lalu ia pun mengalaminya dalam mendampingi tumbuh kembang keenam anaknya. Namun yang begitu istimewa di mata saya adalah kesabaranya berjuang mengantarkan kesuksesan anak-anaknya hingga hari ini dalam status sebagai seorang janda. Seorang janda yang ketika ditinggal suami tercinta masih memiliki beberapa balita. Saya mencoba menyelami perasaannya di masa lampau, perasaan seorang ibu rumah tangga yang tidak bekerja yang tiba-tiba harus berjuang diatas kedua kakinya. Saya mencoba menyelami perasaannya dengan membayangkan jika saat ini berada dalam situasi yang sama. Sementara keseharian saya hari ini yang masih didampingi suami saja begitu penuh hiruk pikuk tiada hentinya, lalu bagaimana jika tiba-tiba harus menjalankan semua peran orang tua seorang diri saja. Saya sadar, situasi seperti itu bukanlah situasi yang mudah bagi seorang wanita. Namun perasaan kecemasan itu selalu saya lawan dengan sebuah keyakinan, bahwa Allah selalu ada bersama kita.

Saya bisa merasakan kebersamaan Allah ketika mendengar kisah yang dituturkan selanjutnya. Bagaimana beliau berjuang bersama anak-anaknya untuk terus hidup dan melanjutkan pendidikan mereka. Sehingga saat ini mereka semua tengah mengambil peran istimewa dalam peradaban manusia. Saya bisa merasakan kebahagiaannya dalam senyumanya. Senyuman seorang wanita pejuang yang melewati manis pahitnya kehidupan, sementara kini ia telah memetik sebagian hasil tanamannya. Saya bisa melihat kebahagiaan yang terukir dalam raut wajahnya terutama ketika bercerita tentang kematian suami tercinta selepas mengimami shalat di sebuah mushola yang insya Allah dalam keadaan khusnul khotimah. Dari beliau saya semakin mengerti, bahwa banyak hal yang akan berubah ketika seorang wanita berubah statusnya menjadi seorang janda, namun satu hal yang pasti, satu hal yang pasti, bahwa Allah selalu ada bersama kita dan anak-anak kita.

Setelah pembicaraan ini, Ingatan saya tiba-tiba meluncur pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Ketika seorang sahabat yang berprofesi sebagai pengusaha berkata pada saya “makanya jadi pengusaha, supaya kalo kita nanti jadi janda tidak harus menunggu ditaadud (dipoligami) oleh ikhwan” sebuah pernyataan yang tak mampu saya hapuskan dari memori saya hingga hari ini karena ketika itu saya berstatus sebagai seorang ibu rumah tangga tanpa unit usaha apapun yang saya jalani. Sejak pernyataan itu saya dengar, saya berusaha memulai bisnis dengan rumah sebagai basis tempat bekerja. Meskipun pada akhirnya dengan berbagai pertimbangan, saya kembali memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga tanpa sumber penghasilan dan unit usaha. Sahabat saya ini memiliki jalan hidup yang istimewa. Ketika unit usaha yang dirintisnya bersama suami mencapai titik-titik kejayaan, qodarullah beliau bercerai dengan suaminya. Perceraiannya pun diiringi dengan perceraian dengan unit usahanya. Maka ia pun berstatus janda dengan kehidupan tanpa unit usaha yang dulu ia rintis salah satunya untuk mempersiapkan masa jandanya. Maka beliau pun kembali berjuang merintis sumber nafkah lainnya untuk menghidupi anak-anak yang dalam pengasuhannya.

Saya pun kembali merenung, betapa banyak orang-orang Amerika yang sibuk bekerja di masa muda, sangat sibuk bekerja, bahkan gila bekerja dengan alasan mempersiapkan masa pensiunnya. Namun tidak sedikit diantara mereka yang tidak bahagia di masa pensiun mereka meskipun harta melimpah dan mencukupi kebutuhan mereka. Juga tidak sedikit diantara mereka yang justru kehilangan pundi-pundi harta yang telah dikumpulkan semasa mudanya ketika waktu pensiun tiba. bahkan sebagian diantara mereka menghabiskan harta simpanannya untuk membayar panti jompo tempat mereka menghabiskan sisa-sisa usianya.

Hari esok masih menjadi rahasia Allah untuk kita. Kita tidak pernah tau tentang jalan seperti apa yang akan kita lalui. Bahkan ketika kita kerja keras mempersiapkan perbekalan di hari ini untuk hari esok, kita tidak benar-benar dapat memastikan apakah perbekalan itu akan tetap ada ketika kita benar-benar membutuhkannya. Saya mengerti semua wanita pasti ingin melewati masa janda mereka tanpa kecemasan perkara harta. Namun banyak wanita yang mungkin saat ini memiliki keadaan yang sama seperti saya. Keadaan yang meminta mereka sepenuhnya fokus mengurus rumah tangga dan belum mendapat kesempatan untuk memiliki penghasilan dari keringatnya sendiri. Jika para wanita memiliki pandangan bahwa rezeki itu berasal dari suami yang manafkahinya, maka alangkah wajar jika mereka memiliki kecemasan ketika masa janda tiba. Namun jika kita meyakini bahwa Allah memiliki cara yang tak terhingga dalam menyampaikan takaran rezeki setiap hamba yang telah Allah tetapkan dari lahir sampai ajalnya, insya Allah para wanita akan lebih optimis melewati hari-hari dalam melaksanakan kewajibannya di dalam rumah tangga meski saat ini jalan rezeki mereka sebagian besar masih lewat nafkah dari suami mereka.

Teringat nasihat terakhir almarhum tetangga orang tua saya di Bandung ketika saya sedang “berguru” dalam merintis sekolah di kota Batam, beliau berpesan “Kiki….. Sesungguhnya Allah tidak meminta kamu untuk menyelesaikan semuanya sendirian. Allah hanya meminta kamu taat! Sehingga Allah sendiri yang akan menyelesaikan persoalan kamu” Pesan ini selalu terngiang dalam pikiran saya ketika dihadapkan dengan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, yang belum ada apa-apanya dibanding para wanita yang berjuang dengan status janda.

Yaaaa….. Hari ini saya memang seorang istri yang belum memiliki penghasilan sendiri. Bukan karena tidak mau berusaha berikhtiar mempersiapkan masa janda, namun karena baru sebatas inilah kemampuan yang bisa dipersembahkan dalam rangka ketaatan kepada-Nya. Saya belum mampu menjalankan peran saya secara unggul pada semua lini kehidupan. Namun saya meyakini bahwa hari ini adalah hari ini, rezeki hari ini adalah rezeki hari ini yang datang dengan cara ini. Hari esok adalah hari esok, rezeki hari esok adalah rezeki hari esok yang datang dengan cara yang telah menjadi ketetapan-Nya. Perjuangan dan persiapan hari ini bukanlah penentu datangnya ketetapan hari esok. Perjuangan dan persiapan hari ini hanyalah ikhtiar yang dipersembahkan kepada Allah agar Allah berkenan dan ridho menurunkan ketetapan terbaik-Nya di hari esok. Kita memang tidak pernah tahu tentang hari esok, namun yang pasti Allah selalu bersama kita, Allah tidak akan meninggalkan kita selama kita selalu menjaga-Nya.

Dari Abul Abbas bin Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhuma dia berkata: Pada suatu hari aku pernah berada di belakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda, “Hai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, sesungguhnya seandainya umat ini bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberinya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk mendatangkan suatu kemudharatan kepadamu, maka mereka tidak dapat mendatangkannya, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengering.” (HR. Tirmidzi, dan ia mengatakan: Hadits Hasan)


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 35 – Andai Saja Aku Mau Mendengar Satu Kalimat Lagi

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here