CKSPA Episode 34 – Dari Pintu Yang Mana Kami Layak memasuki Jannah-Nya

0
295
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 34
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 34

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 34

Dari Pintu Yang Mana Kami Layak memasuki Jannah-Nya

Entah apa yang saat itu sedang dipermasalahkan Ali dan ayahnya di dalam kamar, tiba-tiba saya melihat Ali yang saat itu berusia 10 tahun keluar berlinang air mata. Segera saya menghampiri sang ayah untuk bertanya apa masalahnya. Dengan wajah yang sangat kecewa ia meminta saya bertanya langsung pada anak kami. Saya hampiri Ali di kamarnya, yang ternyata sedang menangis terisak-isak tak seperti biasanya. Ia pun mengambil foto almarhum ibunya lalu memeluknya bersama lelehan air matanya. Saya yang saat itu kebingungan dan salah tingkah, hanya dapat menarik nafas sejenak dan berkata “ada apa nak?” Namun ia tak beranjak dari tangisnya. “Ya sudah kalo mau menangis dulu silahkan, nanti kalo sudah tenang kita bicara” Saya pikir pasti ada masalah serius, ini kali pertamanya Ali menangis sampai seolah mengadu pada ibunya. Saya pun kembali bertanya, lalu sang ayah menjelaskan duduk perkara kekesalannya dalam versi pandangannya.

Saya coba menarik nafas dan menghampiri Ali untuk mengklarifikasi kebenarannya. Namun ternyata saya mengerti bahwa kenyataannya itu hanya salah paham saja. Saya pun menyimpulkan bahwa sang ayah terlalu terburu-buru menyimpulkan sesuatu tanpa mau mendengar penjelasan anaknya. Terkadang inilah posisi yang cukup sulit bagi saya, antara menghargai hak anak dan menjaga kehormatan suami dihadapan mereka. Tapi bagaimanapun di dalam rumah kami keadilan harus ditegakkan, yang salah tetaplah salah. Ia berkewajiban meminta maaf untuk terlebih dahulu. hanya saja kami memang berkomitmen, jika ada diantara kami yang sedang salah bersikap dalam menghadapi anak-anak, maka tidak pantas bagi kami menyanggah sikap pasangan kami secara langsung dihadapan anak-anak. Jujur saat menulis ini saya lupa seperti apa percisnya permasalahannya. Tapi kejadian ini sulit sekali terhapus dalam memory saya. Sebuah kejadian yang memberi pelajaran berharga untuk menundukan ego sebagai orang tua ketika keadilan harus berbicara.

Saya tenangkan Ali dengan memaklumi perasaannya, saya berikan ia kesempatan jikalau ingin memperpanjang tangisannya. Namun saya sampaikan pula kemungkinan alasan di balik kemarahan ayahnya. Saya katakan mungkin sang ayah terlalu lelah dengan beban pekerjaannya sehingga berkurang kesabaran untuk mau mendengar alasan yang utama.

Saya hampiri sang ayah untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Lalu saya minta ia untuk meminta maaf pada anaknya dan segera menyelesaikan masalah ini sebelum waktu tidur tiba. Saya tahu terkadang meminta maaf bukanlah perkara yang sederhana. Namun saya ingatkan bahwa didalam keluarga kami, kami berkomitmen unuk tidak mengakhiri suatu hari dengan pertengkaran dan tidak tidur dengan membawa kemarahan.

Saya begitu menyadari bahwa keluarga kami bukanlah keluarga yang melaksanakan ibadah dengan istimewa. Seandainya jalan pintas masuk surga terbuka lewat pintu shalat, kami merasa saat ini belum memiliki tiket istimewa untuk masuk melaluinya. Seandainya surga terbuka dari pintu puasa, kami pun merasa belum mampu untuk membeli tiket vip yang mengijinkan kami masuk melaluinya. Seandainya surga memanggil dari pintu sedekah, rasanya masih jauh bagi kami untuk ikut dalam rombongan yang menghampirinya. Dan saat ini pun kami belum mendapat giliran rezeki berangkat ke tanah suci, sebagai peluang memasuki surga melalui pahala haji mabrur. Maka teringat pesan nabi yang mengkisahkan sahabat yang menjadi ahli surga bukan karena amalannya yang istimewa namun karena kebiasaanya untuk mengikhlaskan kesalahan orang lain sebelum menutup hari diatas pembaringannya.

Atas dasar itulah, saya meminta mereka menyelesaiakan kesalahpahaman ini sebelum memejamkan mata. Agar kita dapat menutup hari dengan hati yang bersih tanpa kekesalan dan prasangka. Begitu juga hal ini kami terapkan dalam hubungan suami istri di dalam rumah tangga kami. Saya tidak sanggup membawa kemarahan suami dalam istirahat malam saya, karena saya tidak yakin apakah Allah masih memberi kesempatan bagi saya untuk kembali mendapat keridhoan darinya. saya begitu khawatir akan akan menjadi istri yang paling merugi di dunia, jika telah bersusah payah berjuang dan berusaha namun harus mengakhiri usia diatas kemarahan suami tercinta.

Alhamdulillah atas ijin Allah, hati sang ayah luluh untuk meminta maaf kepada anaknya. Mereka berdua saling mengulurkan tangan dan berpelukan. Saya pun tak kuasa menahan air mata. ya begitulah….. orang tua pun manusia dan manusialah tempatnya khilaf dan salah. Tak sedikit kesalahan kami lakukan kepada anak-anak kami. Namun adalah suatu kedamaian ketika kita dapat memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan orang lain sebagaimana kitapun berharap orang lain memaafkan kesalahan kita. Semoga dengannya minimal ada sebuah celah pintu surga yang selalu terbuka bagi kita.

San Jose California
dari seorang ibu yang begitu banyak kelemahan dan kekurangan
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 33 – Bocah-Bocah Akhir Zaman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here