CKSPA Episode 33 – Bocah-Bocah Akhir Zaman

0
275
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 33
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 33
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 33

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 33

Bocah-Bocah Akhir Zaman

Hati saya tersentak membaca curhatan seorang bunda via inbox yang tinggal di salah satu perkampungan Indonesia. Beliau mengabarkan tentang kondisi masyarakat di lingkungannya. Beliau bercerita tentang seorang bocah SD berumur 8.5 tahun di lingkungannya yang sering mengkonsumsi konten pornografi. Bocah tersebut sudah berada dalam tahapan kecanduan bahkan puncaknya ia nekad melakukan “acting out” terhadap balita berusia 3 tahun. Tersentak bukan karena mendengar kasus ini, karena kasus semacam ini memang semarak terjadi di segala penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Saya begitu tersentak karena ketika ibu sang korban melaporkan kepada ibu sang pelaku, dengan mudahnya ia menjawab “ya sudah kalo gitu, gak usah main sama anak saya aja!” Lalu ia pergi menghentikan pembicaraan menuju rumahnya.

Astagfirullah….astagfirullah….astagfirullah, kini memang telah tiba akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Anak-anak kita adalah bocah-bocah akhir zaman karena dimasa inilah kita dan anak kita hidup. Dan dimasa inilah kita mendampingi tumbuh kembang anak-anak kita. Dan ditengah lingkungan seperti inilah kita membentuk kepribadian anak-anak kita. Sebuah masa yang Rasulullah telah kabarkan bahwa perzinahan akan merajalela. Ketika dahulu hal ini dianggap aib yang luar biasa, namun kini hal ini dianggap hal yang biasa. Bahkan mungkin kelak menjadi biasa terjadi dikalangan bocah-bocah ingusan yang seharusnya masih suci dari dosa. Di akhir zaman ini, sebuah perzinahan yang terjadi beberapa menit saja, kini tidak lagi hanya menjadi dosa dua orang manusia. Namun, teknologi telah memudahkannya untuk menjadi sarana dosa beramai-ramai.

Saya jadi teringat pesan umar bin khatab kepada para orang tua, untuk mendidik anak-anak sesuai jamannya. Dan kini, jaman telah berubah, anak kita tidak lagi tumbuh dalam masa kecil seperti kita apalagi seperti orang tua kita. Dan kita tidak lagi dapat sepenuhnya meng “copy paste” bagaimana cara orang tua kita mendampingi tumbuh kembang kita.

Kejadian ini semakin menguatkan pilihan kami, dalam memahami apa sesungguhnya hakikat “bersosialisasi” bagi anak-anak kami di masa kini. Melihat kenyataan rusaknya pergaulan di usia remaja, baik di Indonesia apalagi di Amerika, maka kami memilih untuk memaknai “belajar bersosialisasi” tidaklah harus dengan cara menempatkan anak dalam sebuah lingkungan sosial yang bersifat masif sehingga ia memiliki kesempatan untuk banyak mengenal orang lain. Karena lingkungan yang bersifat masif sangat sulit berada dalam pemantauan kami sementara hal tersebut sangat memungkinkan bagi mereka untuk berinteraksi secara langsung dengan berbagai kepribadian dan pola pikir yang bervariasi. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu pada fasa pembentukan jati diri mereka tanpa banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang tidak sesuai dengan apa yang kami anut. Sampai kelak kemudian kami siap melepaskan mereka dengan kepribadian yang lebih kokoh dan siap memilah apa yang baik untuk diteladani serta apa yang buruk untuk ditinggalkan atau didakwahi. Maka kami memilih, bahwa yang kami butuhkan saat ini hanyalah sebuah miniatur masyarakat dalam sebuah lingkup sosialisasi yang lebih kecil, yang terjaga dan terpantau,sekedar cukup untuk mengajarkan anak bagaimana adab bergaul dan bersikap terhadap orang lain.

Bagi kami, baik tidaknya seseorang dalam bersosialisasi tidak dilihat dari berapa banyak jumlah teman yang ia miliki, serta tidak dilihat dari seberapa cepat ia mampu beradaptasi dalam lingkungan baru. Namun dari seberapa banyak kebermanfaatan yang dapat ia berikan bagi lingkungannya serta seberapa besar perbaikan yang mampu ia lahirkan bagi lingkungannya. Terlebih hidup di era sosial media seperti saat ini, membangun hubungan pertemanan menjadi perkara yang jauh lebih mudah dilakukan oleh siapapun dengan jenis kepribadian apapun. Yang menjadi tantangan utama bersosialisasi di akhir zaman seperti ini bukanlah bagaimana membangun hubungan pertemanan yang banyak, namun bagaimana menjalin hubungan pertemanan yang saling menguatkan dalam kebenaran dan kesabaran ditengah zaman yang semakin “wong edan”

Karena kenyataan ini, maka kami memilih untuk menjalankan program homeschooling pada fasa 7 tahun kedua perkembangan mereka setelah sebelumnya mereka diberi kesempatan untuk sedikit merasakan warna-warni realita kehidupan dunia khususnya di Amerika. Kami memilih untuk lebih banyak meluangkan waktu bersama mereka pada masa-masa pencarian jati diri mereka. Pilihan ini kami ambil dengan segala konsekuensinya, demi menjaga, memilah, dan membatasi apa yang di dengar, dilihat, dan dialami oleh anak-anak kami pada masa-masa utama pendidikan dan pembentukan karakter mereka. Kami merasa membutuhkan sedikit ruang dan waktu untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kehidupan kepada mereka sebelum kelak mereka bersinggungan dengan warna-warni nilai kehidupan yang dianut menusia . Bukanlah sebuah lingkungan steril yang ingin kami ciptakan dengan mempersempit wilayah sosial mereka, namun kami membutuhkan sedikit waktu untuk membangun imunitas dalam jiwa mereka. Imunitas itu dapat kami bangun dengan memperlihatkan realitas keburukan masyarakat di dunia hanya dari kaca mata luar tanpa harus terlalu banyak bersinggungan dengan subjek pelakunya. Karena yang kami butuhkan dari fakta keburukan itu, hanyalah untuk mengasah rasa kepekaan sosial mereka. Dan kami berharap, kebersamaan kami yang lebih lama memberi kesempatan bagi kami untuk merefleksi dan mengarahkan bagaimana yang seharusnya. Kami sadar, pilihan kami bukanlah pilihan sederhana. Bahkan mungkin banyak diantara kerabat dekat pun masih ada yang tidak menyetujuinya. Namun kami harus memilih, memilih apa yang saat ini paling mudah untuk mendekatkan kami kedalam surga. Agar kelak kami dapat mempetanggungjawabkan dihadapan sang Penguasa terhadap sebuah perintah di dalam Al-quran untuk memelihara diri dan keluarga dari panasnya api neraka.

Yaa! Kami harus memilih! Walau pilihan kami melawan kenyamanan. Karena anak-anak kami adalah bocah-bocah akhir zaman, yang memiliki pilihan diantara dua peran dalam kancah kehidupan akhir zaman yang digambarkan Rasulullah. Memilih menjadi manusia yang memiliki masa depan sebagai bagian dari kerusakan peradaban atau memilih menjadi manusia yang mengambil bagian dalam kemenangan islam.

San Jose, California
Dari seorang ibu yang terus berdoa untuk keselamatan anak-anaknya
Kiki Barkiah


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 32 – Kala Cemburu Melanda

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here