Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 26

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 26

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 26

Karena Yang Saya Cari Adalah Ibu….

Di suatu siang, ali tiba-tiba memeluk saya dari belakang

Ali: “ummi, not every kids has a mom like you!”
Saya kaget, campur salah tingkah, saya usap rambutnya, dan berkata
Ummi: “and not every mom has a child like you too!”

Masyaa Allah! pernyataan itu begitu terindah didengar, meski saya sadar betapa diri ini jauh dari kesempurnaan sebagai ibu dan istri. Perjalanan menjadi ibu tiri baginya begitu penuh warna, suka dan duka. Keadaan ini pun tidak diraih dengan proses instan. Semua melewati proses belajar yang kadang berkali-kali melakukan kesalahan. Namun yang paling utama adalah karena Allah mengkaruniakan kemudahan bagi kami dalam menjalankanya.

Namun mengapa Allah begitu memberi kemudahan bagi kami untuk bisa menjalankan fungsi dan peran kami masing-masing layaknya seorang ibu dan anak pada umumnya? Semakin hari pertanyaan itu semakin terjawab karena semakin hari hubungan kami dalam keluarga semakin indah. Salah satu faktor yang mendukung kemudahan ini adalah karena sang ayah mengawali pernikahan kami dengan niat yang benar. Ia memulai kembali hidup baru dalam mencari pasangan hidup baru, bukanlah untuk sekedar mencari kesenangan baginya. Mencari istri baru bukanlah hal yang menjadi harapan utamanya. Namun yang utama adalah mencari seorang ibu bagi anaknya agar ia mampu mempertanggungjawabkan amanah yang telah Allah beri, sepeninggal almarhumah. Merawat dan mendidik anaknya menjadi anak yang sholih, adalah satu-satu cara baginya untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sang istri setelah tiada.

Aah… jadi teringat masa taaruf yang singkat dan penuh makna. Hanya satu saja pernyataan beliau saat menerima biodata diri saya yang memang tebal karena saya sangat suka menulis. “Kalau sesibuk ini, kapan punya waktunya untuk ngurus anak?” Gubrak!!!! Saya pun tarik nafas sambil menahan tawa “kalo yang saya tulis itu kan aktifitas saya saat ini sebagai mahasiswa, karena amanahnya mahasiswa ya saya upayakan yang terbaik dalam aktifitas saya, kalau besok saya jadi istri dan ibu, ya amanahnya juga sudah beda, maka insya Allah saya upayakan yang terbaik juga” sejak pernyataan itulah ia kemudian maju melamar saya, dan berbagai kemudahan datang dalam mempercepat pernikahan kami. Dan sejak hari itu, saya lepaskan semua amanah yang diemban untuk melewati hari-hari baru sebagai seorang istri dan ibu. Setelah menikah beliau berkata “neng, kalo biodatanya dipakai untuk melamar jadi kandidat ketua himpunan mah, udah pasti kepilih, masalahnya bapak mah mau cari ibu” wkwkwkwkwkwkwk.

Mengawali proses menjadi ibu baru memanglah tidak mudah. Apalagi saat itu tugas saya tidak sekedar menghadirkan sosok diri sebagai ibu baru baginya, namun juga menghadirkan sosok ayah yang selama ini tinggal terpisah jauh darinya. Serta melewati hari-hari penuh suka duka untuk mengumpulkan Ali bersama ayahnya layaknya sebuah keluarga. Meski tidak mudah, apalagi saat itu lingkungan pun berfikir bahwa “tidak akan mudah” saya hanya berdiri tegar diatas keyakinan saya bahwa hati seorang anak ada dalam genggaman Allah dan bersama Allah saya bisa melewati semuanya. Alhamdulillah tidak lama dari ijab kabul kami, Allah mudahkan pula kami berkumpul sebagai sebuah keluarga. Jadi ingat saat awal-awal kami berkumpul sebagai keluarga, saya sedikit bercerita tentang sejarah ali pada seorang khadimat/art. Beliau menangis tidak percaya kalo ali bukan anak kandung saya. Beliau “ya Allah ummi saya jadi malu, saya saja tidak bisa seperti itu pada anak saya, saya gak nyangka kalo Ali bukan anak kandung ummi”. Ketika hati telah bersatu padu dalam ikatan cinta kepada Allah. Maka tanpa pertalian darah pun manusia bisa saling mencintai, dan saling berpegangan tangan untuk meraih keridhoan ilahi.

Demikian lah sepenggal kisah yang ingin saya bagi, sepenggal kisah tentang cara Allah menjawab itikad dan niat seorang hambanya. Ketika anak dititipkan kepada Allah sepeninggal kita, maka Allah yang akan menghadirkaan sejuta cara untuk menjaga mereka. Begitu juga kelak ketika kita tiada, Allah pula yang akan menjaga mereka dengan caranya.

Bagi sahabatku yang belum menikah, jangan salah memilih niat dalam menikah, karena pernikahan adalah perjanjian teguh atau mitsaqon ghaliza yang begitu penting dalam pandangan islam. Betapa hari-hari perjalanan panjang pernikahan kita sangat ditentukan dari bagimana niat yang mendasarinya. Namun bagi siapa yang telah terlanjur memulainya, insya Allah tidak ada kata terlambat untuk kembali meluruskan tujuan kita menikah dan mengasuh anak-anak. Allahu alam.


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 25 – Apa Niatmu Menikah?

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSPA Episode 26 – Karena Yang Saya Cari Adalah Ibu…."

Your email address will not be published.