CKSPA Episode 16 – Sebaik-baiknya Waktu Pengajaran Bagi Saya Adalah Saat Anak Bertanya

0
515
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 16
Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 16

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 16

Sebaik-baiknya Waktu Pengajaran Bagi Saya Adalah Saat Anak Bertanya

Ummi : “bang ayo bang ambil bukunya, kita belajar yuuk”
Shiddiq: “no i dont want it, i wanna make a cake”
ummi pun membuat beef pie dan sepanjang masak mengajar materi preschool melalui kegiatan memasak. Membahas matematika seperti konsep jumlah, berat, bentuk dll. Membahas science tentang panas, dingin dll. Mengajak diskusi untuk meningkatkan kemampuan language art dengan memimtanya mempresentasikan kembali bahan-bahan dan cara pembuatannya.

Ummi: “bang ayo bang kita belajar yuuk”
Shiddiq: “no i dont want it! I wanna play with tumbling tower”
Ummi pun mengiyakan (dulu) beberapa saat kemudian…
Shiddiq: “look ummi! This is A, this is M bla bla bla”
Akhirnya Shiddiq pun belajar alphabet melalui kegiatan menyusun balok kayu

Ummi: “bang ayo bang belajar matematika yuk”
Shiddiq: “no i dont want it! I wanna make aeroplane”
Ummi pun mengambil kardus bekas, memotongnya, membuat kapal terbang. Lalu shiddiq menggambar dan membuat susunan angka dalam pesawatnya. Maka Shiddiq pun belajar matematika di mainan pesawatnya.

Ummi: “bang latihan nulis huruf lagi yuk!”
Shiddiq: “no i dont want it! I wanna draw an aeroplane”
Shiddiq pun menggambar pesawat tak lama kemudian…..Shiddiq: “ummi gimana huruf-hurufnya kalo shiddiq mau bikin tulisan ‘Shiddiq Airlines’?”
Lalu Shiddiq pun belajar menulis huruf diatas gambar pesawatnya

Ummi: “bang sekarang baca cerita yuk!”
Shiddiq: “no i dont want it! I wanna make a story”
Nyerocos lah shiddiq selama 30 menit menghayal lalu ummi memasukkan materi kurikulum melalui pertanyaan-pertanyaan dalam cerita yang ia buat.

Ummi “bang kamu mau kegiatan apa? Ummi mau rapat dulu di telpon”
Shiddiq: “i wanna make a book”
Shiddiq pun menggambar beberapa halaman tentang pesawat. Lalu setelah saya selesai rapat, ia meminta saya menuliskan ceritanya dalam setiap halaman ilustrasi yang ia buat. Lalu ia menuliskan sendiri judul bukunya “Aeroplane”

Ummi: “bang belajar yuk!”
Shiddiq: “no i wanna play camping!”
Shiddiq pun membangun tendanya dan Ummi pun memasukkan beberapa pengetahuan dalam diskusi bertema camping.

“No i dont want it! i wanna make this i wanna make that! i wanna play this i wanna play that”
Beginilah kurang lebih suasana homeschooling di rumah saya. Bahkan terkadang saya hanya menyiapkan sekian buku tematik mingguan dan menyiapkan berbagai bahan art and craft dan bahan kue lalu mengawali setiap pagi dengan pertanyaan “hari ini kamu mau kegiatan apa? Mau ini atau itu? Mau baca buku yang mana?”. Memiliki anak cerdas istimewa memang memberi tantangan sendiri dalam mengajar. Sering sekali saya menyiapkan materi tententu, namun pelaksanaanya berbelot menjadi kegiatan dan materi lainnya. Sudah banyak buku panduan aktifitas homeschool yg saya beli atau pinjam dari perpustakaan. Namun tidak satupun yang bisa saya tiru secara percis plek…plek…plek. Buku tersebut hanya saya baca untuk perbendaharaan ide yang sewaktu-waktu dapat saya laksanakan.Sebagai guru Shiddiq (4.5 tahun), saya hanya bisa “menggigit” kurikulum yang perlu disampaikan. Namun pelaksanaannya harus sekreatif mungkin mengikuti aliran keinginannya saat itu dalam belajar. Bagi saya yang terpenting ia selalu mengisi setiap aktifitasnya dalam rangka belajar. Bahkan jika saat itu ia sedang ingin berenang di bath tub pun, bagi saya itu bagian dari mata pelajaran homeschooling. Bagi anda para homeschooler yang kegiatan dan kurikulumnya tertata rapi layaknya sekolah formal, saya ucapkan barakallah! Namun bagi anda yang merasa kesulitan mengajak anak-anak belajar sesuai dengan lesson plan yang anda buat, maka saya katakan anda tidak sendirian, saya pun seperti anda. Hehehe….

Tidak semua anak dapat duduk manis belajar di kelas mengikuti apa yang direncanakan guru dalam sebuah kegiatan belajar. Mungkin siswa-siswi seperti Shiddiq yang tidak mau mengikuti kegiatan belajar di cap oleh sebagaian pendidik sebagai anak malas yang tidak mau belajar. Shiddiq sangat tidak suka mengerjakan workbook. Tapi ia menuangkan materi dalam workbook dalam karya nyatanya. Jujur saja kadang sesekali terasa lelah menjadi gurunya di rumah. Apalagi jika frekuensi menyusui sang bayi sedang tinggi. Karena kegiatan belajarnya selalu menyisakan pekerjaan tambahan dalam membersihkan rumah. Namun itulah harga yang harus saya bayar untuk menggali potensinya. Jika Shiddiq belum menunjukan minat untuk belajar sebuah tema tertentu, saya selalu menundanya. Namun tak lama kemudian ia akan meminta sendiri.Saya memang menganut aliran yang tidak memaksakan anak belajar membaca di usia dini. Namun terkadang saya memancing mereka apakah mereka sudah memiliki ketertarikan untuk mempelajarinya. Di usia 4 tahun saya perkenalkan huruf, namun Shiddiq tidak mau. Saya pun menundanya. Beberapa bulan kemudian ia yang meminta sendiri untuk belajar huruf bahkan langsung meminta saya menunjukan cara menulis. Bukan menulis huruf tunggal yang ia minta, namun ia langsung ingin menulis dalam sebuah kata bahkan kalimat. Bahkan tak lama dari itu, ia meminta saya menunjukan cara membaca. Saat itulah saya langsung meminjam beberapa buku latihan membaca dan mengajarinya membaca. Saat masuk pada tingkatan yang lebih sulit, shiddiq berkata “no i dont want it! It’s hard for me!” Lalu saya pun tidak meneruskanya karena memang belum waktunya. Di usia 4 tahun saya ajak ia belajar iqro, ia tidak mau. Beberapa bulan kemudian ia sendiri yang minta saya mengajarkan mengaji. Bahkan ia mengaji dengan begitu cepat dan langsung dapat mengingatnya. Saya penganut aliran yang menjadikan proses belajar anak senatural mungkin. Maka saya lebih banyak memasukan konsep-konsep belajar dalam kegiatan yang dipilih anak-anak jika anak-anak sedang enggan mengikuti kegiatan yang saya pilihkan.

Setiap anak begitu istimewa dan unik, bahkan mereka memiliki cara yang khas dalam belajar. Setiap anak memiliki waktu tertentu untuk mencapai kematangan menerima sebuah pelajaran. Bagi saya sebaik-baiknya waktu yang tepat untuk mengajarkan pelajaran adalah saat mereka bertanya pada saya


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 15 – Sesungguhnya Kita Tidak Akan Benar-benar Menghargai Mereka Sebelum Kita Benar-benar Kehilangan Mereka

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here