Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 15

Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 15

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 15

Sesungguhnya Kita Tidak Akan Benar-benar Menghargai Mereka Sebelum Kita Benar-benar Kehilangan Mereka

Hari itu hari yang lain dari biasanya. Hari yang penuh kekacauan dan ujian kesabaran. Astaghfirullah….astaghfirullah… berapa banyak kata ini terucap dan tak mampu lagi saya hitung. Hampir semua target harian tidak tercapai. Telepon kelas tahfidz terpaksa tidak lagi disambungkan melihat perilaku negatif anak-anak yang meminta perhatian. Semua pekerjaan hari itu tidak terselesaikan seperti biasanya. Kegiatan homeschooling pun berjalan tidak optimal. Setelah sekian banyak konflik pertengkaran yang menguji kesabaran untuk meleraikannya, darah ini hampir mendidih melihat segala kreasi mereka yang membuat rumah seperti kapal pecah, lebih dari biasanya. Saya mencoba menyampaikan batasan-batasan perilaku agar kekacauan tidak terus bertambah sambil terus berusaha menjaga nada bicara agar tidak meninggi. Tanganpun dikepal untuk mengalihkan energi negatif dalam tubuh agar tidak bertransformasi menjadi sebuah kemarahan. Sambil terus bicara, saya terus mengingat pesan teori parenting yang saya pelajari. “Soft and gentle”

Saya berjalan keluar, menengok apa yang mereka lakukan sebelumnya di ruang tamu saat saya sedang “terjebak” menyusui bayi dan tak bisa mendampingi para balita yang bermain role playing. Ketika melihat keadaan ruang tamu, kalimat yang terucap adalah puluhan “astagfirullah….astagfirullah…astagfirullah….dalam volume yang cukup besar seperti memanggil anak dari posisi yang berbeda ruangan. Satu tangan ini terus mengusap dada setiap kali kata istigfar terucap. Sementara tangan yang lain membersihkan dan merapihkan kekacauan. Saya terus berupaya mendinginkan darah tubuh yang bergejolak. Saya menjauh dari anak-anak agar gejolak yang saya rasakan dalam tubuh ini tidak terlepas dalam bentuk teriakan kemarahan yang akan memutuskan berjuta neouron otak mereka. Saya duduk terdiam cukup lama, menatap hasil karya mereka yang merusak fasilitas rumah sambil terus berdzikir di dalam hati dan berfikir bagaimana harus meluruskan perilaku ini dan merapihkan semua kekacauan yang terjadi. Dalam keadaan tenang barulah saya bisa melibatkan mereka untuk bertanggung jawab dengan memberikan pengertian dan ajakan yang kreatif agar semua dapat mengambil bagian dalam penyelesaian masalah. “Innallaha maashaabirin”adalah sebuah perintah al-quran yang saya pegang dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Kalimat ini selalu saya ingat agar saya selalu berusaha untuk tidak melampiaskan kemarahan.

Peristiwa ini mengajak saya mengingat kehidupan 25 tahun silam saat saya berusia 3 atau 4 tahun. Ayah dan ibu saya bekerja, bahkan dengan berbagai pertimbangan, ibu bekerja dengan porsi yang lebih dari ayah. Terlebih sejak ayah terbaring sakit selama 7 tahun sebelum dipanggil Allah SWT. Sebagian besar waktu di masa kecil, saya lewatkan bersama televisi, teman-teman, dan asisten rumah tangga. Kondisinya hampir sama, berjumlah 5 anak dengan jarak 1 atau 2 tahun. Lalu saya berpikir tentang apa yang kira-kira dirasakan dan dilakukan asisten rumah tangga saat itu ketika berhadapan dengan perilaku saya dan saudara-saudara dimasa balita. Jika dibandingkan, kepusingan dan kerepotan saya sehari-hari saat ini, adalah dalam rangka menghadapi anak sendiri, amanah sendiri, serta ladang surga sendiri. Bukanlah sebuah kerepotan dalam kontrak pekerjaan yang berpengahasilan sekian lembar ratusan ribu. Saya yakin jika ada kesempatan pekerjaan yang lebih mudah bagi mereka dengan penghasilan yang sama, mungkin pekerjaan menjadi asisten rumah tangga adalah prioritas terakhir. Terlebih lagi bagi mereka yang bermukim, sebagian diantara mereka terpaksa meninggalkan keluarga bahkan anak-anak mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab utama mereka.

Setiap kali saya merasakan tantangan menjadi orang tua, selain teringat perjuangan kedua orang tua, saya selalu teringat wajah-wajah orang yang sempat mengurus masa kecil saya. Mereka adalah orang-orang yang berjasa dalam hidup saya dan sangat berjasa bagi orang tua saya. Tanpa jasa mereka, kedua orang tua saya tidak mungkin dapat bekerja dengan tenang demi mencukupi kebutuhan keluarga kami.

Mengurus 5 anak tanpa bantuan orang lain memang penuh tantangan, namun patut disyukuri begitu banyak kemudahan yang Allah berikan saat ini pada saya. Berbagai peralatan rumah tangga canggih seperti mesin cuci, pengering dan vacuum cleaner sangat membantu dalam menghemat tenaga dan waktu yang saya miliki. Bahkan itupun terkadang saya masih menelpon suami saat pekerjaan tidak akan terkejar “pah maaf ya, hari ini papah pulang rumahnya belum rapi karena banyak iklan dari anak-anak”. Mungkin asisten rumah tangga akan segan meminta pemakluman seperti apa yang saya lakukan. Terkadang saat badan begitu lelah saya meminta ijin anak-anak untuk istirahat sejenak serta meminta mereka melakukan keperluannya sendiri. “Nak… maaf ummi capek sekali, bisa urus sendiri ya?” Mungkin para asisten rumah tangga pun ingin rasanya bisa sejenak merebah saat lelah mengurus para balita namun mereka terjejar oleh target harian dari sang majikan. Dan yang perlu disyukuri, nilai yang dibawa pulang suami pun jauh lebih besar dari apa yang diterima oleh asisten rumah tangga. Terlalu banyak nikmat yang Allah berikan untuk menahan diri ini dari berkeluh kesah. Malu rasanya jika banyak mengeluh. Mengingat bantuan mereka begitu berarti dalam kehidupan sebuah keluarga, maka itulah yang membuat saya tidak pernah bisa marah terhadap kekurangan asisten rumah tangga saya ketika dulu saya di bantu mereka saat merintis rumah tangga di Indonesia.Hari ini ingin rasanya saya panjatkan doa untuk seluruh asisten rumah tangga dimanapun mereka berada.

Ya Allah ya Rabb ya Rabb. Kupanjatkan doa padaMu untuk semua asisten rumah tangga di manapun mereka berada. Ya Allah muliakanlah kehidupan mereka sebagaimana kemuliaan amal mereka dalam merawat kami. Ya Allah lindungilah keluarga dan keturunan mereka sebagaimana mereka telah melindungi kami. Jagalah keluarga yang mereka tinggalkan sebagaimana mereka menjaga keluarga kami. Jagalah harta mereka sebagaimana mereka pun menjaga harta kami. Penuhilah segala keperluan mereka sebagaimana mereka pun berusaha memenuhi keperluan kami. Hiasilah rumah mereka dalam jannah-Mu sebagai mana mereka marawat dan menghias rumah kami. Sajikanlah hidangan ternikmat dalam jannah-Mu sebagimana mereka mempersembahkan hidangan terbaik bagi keluarga kami. Ampunilah segala khilaf dan dosa mereka karena begitu banyak pula kekhilafan kami dalam bersikap terhadap mereka. Karuniakanlah perbaikan dalam keturunan mereka sehingga kehidupan mereka lebih baik lagi sebagaimana kehidupan kami pun lebih baik dengan kehadiran mereka. Karuniakanlah mereka pemilik pekerjaan yang menyayangi mereka dan keluarga mereka, yang menghargai segala jerih payah mereka, yang memaafkan segala kekurangan mereka sebagai mana para majikan pun memiliki banyak kekurangan. Alirkanlah pahala-pahala kebaikan kami saat ini kepada mereka yang dengan tulus membantu orang tua kami menjaga, merawat bahkan mendidik kami. Kumpulkanlah kami semua dalam jannah-Mu sebagaimana engkau kumpulkan kami di dunia ini, dalam keadaan yang jauh lebih baik lagi. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

“sesungguhnya kita tidak akan benar-benar menghargai mereka sebelum kita benar-benar kehilangan mereka”


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 14 – Wahai Anakku… Inilah Pesan Ummi Tentang Hakikat Belajar

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSPA Episode 15 – Sesungguhnya Kita Tidak Akan Benar-benar Menghargai Mereka Sebelum Kita Benar-benar Kehilangan Mereka"

Your email address will not be published.