CKSPA Episode 05 – Hidup Merantau Tanpa ART Menumbuhkan Sikap Inisiatif Pada Anak

0
729

TarbiyatulAulad.com | CKSPA – Cuplikan Kisah Seputar Pengasuhan Anak Episode 05

Hidup Merantau Tanpa ART Menumbuhkan Sikap Inisiatif Pada Anak

Saat di kamar sedang menyusi bayi, tiba-tiba…..
Shafiyah: “ummi jangan keluar kamar dulu ya, kami punya surprise”
Saat diijinkan keluar ternyata tattaraaaaa……surprise!!!
Play room begitu rapi padahal sebelumnya mereka baru selesai sesi science project dengan bahan kimia.
Shiddiq: “ummi ciumannya mana?”
(Hihihi….)

Ternyata ucapan terimakasih saja tidak cukup bagi mereka. Mereka mengharapkan apresiasi hangat berupa ciuman atas inisiatif yang telah mereka lakukan.

Bantuan atas inisiatif anak-anak mulai sering muncul akhir-akhir ini. Tak jarang saya tiba-tiba menemukan Shafiyah 6y tengah menyuapi adiknya makan, Faruq 2.5y tiba-tiba membuang popok kotor saat saya mengganti popok bayi, Shiddiq 4y mengeluarkan laundry saat mendengar mesin cuci berhenti dan inisiatif laiannya yang begitu membahagiakan hati saya. Bahkan mereka sering bertengkar berebut peran dalam membantu saya.

Sebagai seorang ibu rumah tangga tanpa art, inisiatif anak-anak dalam membantu pekerjaan begitu berharga bagi saya. Tidak hanya karena merasa bahagia melihat perkembangan kedewasaan mereka sebagai insan manusia. Namun, pada kenyataannya memang saya begitu membutuhkan bantuan mereka. Tanpa kerjasama, sulit rasanya menyelesaikan semua pekerjaan sendirian. terlebih saat ini memiliki bayi laki-laki dengan frekuensi menyusui yang luar biasa.

Hidup merantau tanpa sanak keluarga memang tidak mudah dan penuh suka duka. Terlebih memiliki 5 anak dengan banyak balita. Sempat atau tidak sempat harus selesai. Kuat atau tidak kuat harus dikerjakan. Suka atau tidak suka harus bertahan. Namun demikian, keberadaan kita dalam suatu tempat adalah pilihan Allah. Oleh karena itu saya begitu yakin, dimana pun Allah menempatkan kita, disitulah Allah menginginkan kebaikan bagi kita.

Bagi saya, keadaan merantau tidak hanya melahirkan kebaikan bagi saya dan suami namun juga bagi anak-anak. Tantangan yang kami hadapi mampu mengasah rasa kepekaan anak-anak terhadap lingkugan, empati terhadap sesama, tolong menolong antar saudara, serta kepedulian membantu orang tua.

Sikap inisiatif bukanlah sebuah bakat lahir seorang anak. Sikap inisiatif perlu diasah dalam diri seorang anak. Menumbuhkan sikap inisiatif bukanlah sebuah proses yang instant. Butuh kesabaran dalam menumbuhkan tanggung jawab dalam diri anak-anak baik tanggung jawab akan dirinya maupun lingkungannya. Perlu keistikomahan dan kebijaksaan dalam proses “mengingatkan” anak untuk melaksanakan tanggung jawabnya. Anak-anak perlu dimotivasi untuk mampu menyelesaikan tanggung jawabnya sebelum sikap inisiatif menjadi karakter yang ada dalam diri seorang anak.. Kesalahan kita dalam proses “mengingatkan” justru berpotensi untuk meruntuhkan sikap inisiatif itu sendiri. Apalagi bagi anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang selalu dibantu dan dilayani segala keperluannnya.

Saya tidak ingin membangun keluarga dengan suasana “keluarga gadget”. Keluarga yang ibunya sibuk berfacebook, ayahnya sibuk di depan laptop, anak remajanya sibuk dengan online games, anak balitanya hanya sepanjang waktu disuguhi baby tv. Bahkan para orang tua sampai tidak tahu atau bahkan tidak peduli terhadap apa yang dilihat sang anak dibalik gadget miliknya. Sementara keperluan mereka selesai dengan mengatakan “bibiiii” mbaaak” “mbooook”. Oleh karena itu, saya selalu meminta anak-anak menyelesaikan keperluan dan kebutuhan mereka sendiri. Melengkapi rumah dengan beragai perabotan yang membantu mereka untuk bisa mandiri melakukan pekerjaannya. Hanya menolong pada hal yang saya tau masih sulit untuk dilakukan anak-anak. Memilih untuk berkali-kali bertanya “sudah dikerjakan nak?” tanpa membantu mereka, dibanding mengomel tapi pekerjaannya diselesaikan orang tua. Membagi tugas sesuai porsi kemampuan ketika beres-beres bersama. Bahkan mendelegasikan beberapa pekejaan ringan dalam mengurus adik-adiknya. Saya memang menerapkan aturan bahwa dalam satu hari mereka harus memiliki kontribusi terhadap lingkungan, sehingga ketika waktu main dirasa cukup saya sering mengatakan “sudah dulu nak mainnya, sekarang waktunya helps mother, kamu mau bantu apa?” Memotivasi mereka dalam mengerjakan keperluan mereka saya mulai sejak usia dini, meskipun pembebanannya hanya dimulai bagi anak yang sudah menapai usia 7 tahun. sebagai contoh Faruq 2.5 tahun sudah bisa menyelesaikan keperluannya sendiri sebelum waktu tidur, dari mulai menyalakan lampu kamar mandi, menggosok gigi sampai merapikan kembali peralatan gosok giginya. Namun ketika ia sedang tidak ingin melakukannya sendiri, mengingat usianya maka saya akan membantunya.
Terkadang anak sudah bisa melakukannya sendiri, namun ia meminta tolong sebagai bentuk mencari perhatian orang tua. Saya akan membantunya sedikit sekedar memberi perhatian, misalnya denganmengatakan “mau berapa suap disuapinya?” “mau berapa hitungan digendongnya? 10 hitungan yaaa…..”

Alhamdulillah, keadaan ini memaksa kami untuk lebih mandiri dalam menjalankan hidup. Saya berharap, sikap inisiatif yang tengah diasah dalam diri anak-anak kelak muncul sebagai sikap produktif dan solutif dalam bermasyarakat. Sehingga anak bukanlah sebuah generasi “user” tapi “maker” atau bahkan “inventor”. Bukan juga sebuah generasi “penonton” tapi sebagai “pemain” dalam kancah pertarungan kehidupan. Aamiin


Penulis: Kiki Barkiah

Baca juga CKSPA Episode 04 – Antara Kami dan Televisi

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here