CKSMA B-9 Cinta Nenek oh Cinta Nenek

0
243
Pedagang “Bu mani ngaborong, ibu gaduh warung?”
(Ibu kok memborong barang, apa ibu punya warung?)
tanya seorang pedagang grosir kepada neneknya anak-anak
Nin Ani: “Muhun pak, gaduh warung”
(iya pak, punya warung)
Pedagang : “Palih mana bu?”
(Sebelah mana bu?)
Nin Ani: “Di bumi, tapi ieu mah warung kanggo incu wungkul, bukana ngan sabtu minggu”
(Di rumah, tapi ini warung hanya untuk cucu, bukanya hanya setiap sabtu minggu)
Pedagang: “hahahaha euleuh mani seueur-seueur pisan, incuna seueur bu?”
(Aduh banyak sekali, cucunya banyak bu?)
Nin Ani: “wah incu abdi mah seueur!”
(Wah cucu saya itu banyak)
 
Begitulah kira-kira sepenggal pembicaraan yang diceritakan ibu saya saat memborong sekian banyak jajanan anak-anak dalam menyambut cucu tercinta.
 
Cinta nenek oh cinta nenek, siapapun wanita yang menyandang status sebagai nenek pasti akan merasakan bagaimana bentuk cinta mereka itu berbeda kepada cucunya dibanding bentuk cinta mereka pada anak-anaknya. Teringat masa lalu saya yang mungkin sering sekali mendapat amarah dari sang ibu saat saya berperilaku yang tidak sesuai harapannya, namun bentuk amarah tak kuasa dilayangkan oleh beliau kepada cucu-cucu, se”hebat” apapun perilaku cucu. WPaling hanya sebatas menyatakan kalimat larangan seperti “eh…. Gak boleh begitu…”
 
Cinta nenek oh cinta nenek…… beban yang berada di pundak seorang ibu di masa lalu dalam membesarkan anak-anak, memang cenderung mendorongnya untuk bersikap lebih tegas bahkan mudah marah. Namun beban itu kini sudah semakin hilang sejalan dengan satu persatu anak-anak semakin besar dan mandiri bahkan mampu membahagiakan sang nenek dengan tambahan uang saku. Maka wajar jika pengasuhan nenek terhadap cucu memiliki batas ketegasan dan nuansa yang berbeda saat mereka mengurus anak-anak dulu. Saya bertanya kepada mamah, apa yang menyebabkan kebanyakan para nenek memiliki perbedaan sikap antara mendidik anak dan mendidik cucu, mamah pun berkisah panjang lebar.
 
Ada beberapa point yang saya tangkap dari apa yang diceritakan mamah, diantaranya:
 
1. Pada masa awal merintis sebuah keluarga, pasangan perlu melakukan berbagai proses penyesuaian, baik antara suami dengan istri maupun dengan keluarga baru. Terkadang hal ini mengakibatkan munculnya ketegangan yang menyebabkan mudahnya orang tua meluapkan emosi pada anak
2. Himpitan ekonomi saat pasangan merintis rumah tangga juga terkadang memicu stress yang menyebabkan para orang tua marah dalam mengasuh anak-anak mereka
3. Keterbatasan ilmu dan pengalaman menjadi orang tua
 
Maka kondisi seorang nenek saat menghadapi cucu sangat berbeda saat ia dulu menghadapi anak-anaknya. Bahkan kondisi kita sebagai orang tua dalam menghadapi anak-anak sangat berbeda dengan kondisi nenek yang menghadapi anak-anak kita. Maka wajar jika ada nuansa yang berbeda dalam pengasuhan oleh orang tua dan oleh nenek kakek.
 
“ari mamah mah geus teu sanggup ngadidik incu mah da jamanna geus beda ayeuna mah. Mamah mah sieun salah ngadidik. Geus we ari ngadidik mah bagian indung bapana. Jeung nin mah bagian maen we. Paling oge engke mun kabagean dipenta ngajar fisika atawa matematika hayu. Ari nini mah hese ngambek ka incu kulantaran ngarasa lain anak sorangan. Pan teu ngeunah ka indung bapakna. Matak goreng mun unggal poe dididik ku nini mah. Ulah barudak mah dididik nini akina, kudu ku bapak indungna.”
 
(Mamah sudah tidak sanggup kalau harus mendidik cucu karena jamannya sudah berbeda. Mamah takut salah mendidik. Sudah saja, urusan mendidik itu bagian ibu bapaknya. Sama nenek bagian bermain saja. Paling juga nanti kalo diminta mengajar fisika dan matematika, ayo!. Kalau nenek mah susah marah sama cucu karena merasa bukan anak sendiri. Tidak enak sama ibu dan bapaknya. Makanya tidak baik kalo anak-anak setiap hari dididik oleh neneknya. Sebaiknya anak-anak tidak dididik oleh kakek neneknya, harus oleh ayah ibunya)
 
Begitulah sepenggal kalimat dari ibunda. Seorang guru fisika sma favorit di Bandung yang sering menjadi motivator bagi murid-muridnya. Banyak diantara murid-murid pemalas yang sering kabur dari sekolah, atas ijin Allah bersedia kembali sekolah dan mengejar cita-cita mereka setelah mendapat sentuhan nasihat beliau. Tapi jika berhadapan dengan cucu, neneknya anak-anak memang cenderung sulit menolak permintaan cucu-cucu. Secara alamiah anak-anak pun akan merespon kasih sayang nenek dengan kemanjaan dan meminta hal-hal yang diinginkannya.
 
Maka bagi keluarga kami, momen bertemu nenek adalah sebuah liburan bagi anak-anak terhadap beberapa aturan keluarga. Saat bertamu ke rumah nenek, tentunya kami tidak bisa sepenuhnya menjalankan jadwal dan aturan keluarga. Kapan mandi, kapan makan, kapan makan cemilan, kapan waktu nonton dll. Kami sejenak berlibur dengan sedikit melonggarkan arutan saat bertamu ke rumah nenek. Selama aturan itu hanyalah aturan manusia yang kami buat, bukan aturan yang secara tegas ditetapkan syariah, maka tidak mengapa sesekali anak-anak sedikit berlibur saat bertemu neneknya. Paling-paling saya berkata “besok mulai lagi ya jadwal homeschoolingnya”. Alhamdulillah anak-anak pun dapat bekerja sama. Mereka akan berusaha menyesuaikan jadwal saat kembali ke rumah. Namun ada kalanya saya pun harus tegas, ketika jadwal-jadwal yang dilanggar saat mereka berada di rumah nenek mempengaruhi kesehatan mereka, saya pun biasanya tidak segan berkata “Ayo disiplin, kita tetap punya aturan keluarga. Kalau mau sering diajak bermain ke rumah nin, tetep harus disiplin. waktunya tidur, tidur!” Alhamdulillah nenek pun mengerti, ada ruang yang memang diperlonggar namun ada kalanya ketegasan tetap kami harus tegakkan demi kebaikan bersama.
 
Suatu hari ummi bertanya pada anak-anak
Ummi : “kalian teh kenapa sih sering banget minta jajan kalo ketemu sama nin”
Shiddiq: “Because we know that sometimes you don’t have enough money. So we ask to nin because nin have a lot of money”
 
Semua orang tua yang pernah merintis membangun sebuah keluarga pasti sangat mengerti betapa perjuangan membangun kemapanan ekonomi bukanlah perkara sederhana. Ketika dapur harus tetap mengebul, susu dan popok harus tetap dibeli, maka terkadang sering sekali permintaan anak-anak dalam membeli barang harus tertunda. Bahkan pernah, sang nenek tiba-tiba menyerobot di kasir, membayar jajanan anak-anak saat kami akan membayarnya. “udah neng, simpen we uangna jang meuli susu. Mamah teh inget baheula oge jiga kiki, anak loba keur meuli susu wae mani hese. matak kalian teh di pengmeulikeun susu kiloan nu eweuh gizina kulantaran mamah teu boga duit” (sudah neng, uangnya disimpan saja untuk beli susu. mamah ingat waktu dulu pun seperti kamu, anak banyak, untuk membeli susu saja sangat sulit. makanya kalian dibelikan susu kiloan yang tidak ada gizinya karena tidak punya uang).
 
Saya pun pernah bertanya sama ibu “Mah kenapa cinta nenek itu membuat nenek susah menolak permintaan cucu untuk membeli sesuatu? Kenapa nenek cenderung ingin memanjakan cucu dengan membelikan hal-hal yang mereka sukai?” dan mamah pun menjawab “kahiji memang keadaan nini mah geus lapang euweuh tanggungan. Kadua sok keinget baheula oge hayang pisan ngajajanan barudak, mang meulikeun cocoan barudak tapi kadang teu bisa da teu boga duit. Matak ayeuna ningali incu tumplek sayangna ka incu” (pertama memang keadaan nenek sudah lapang tidak ada tanggungan. Kedua suka ingat masa lalu ingin menjajani anak-anak, membelikan mainan tapi tidak bisa karena tidak punya uang)
 
Cinta nenek… oh cinta nenek…. terkadang kasih mereka pada cucu sulit kita bendung. Seperti luapan kasih sayang yang selama ini tertahan karena keadaan, lalu kemudian meluap tumpah saat keadaan lebih lapang. Tapi terkadang demi kebaikan keturunan saya pun tetap harus berterus terang, mengarahkan bentuk kasih sayang pada sesuatu yang lebih tepat sasaran tanpa mengenyampingkan niat baik nenek.
 
“Nin…. nuhun pisan… aduh barudak mani raresepen pisan dijajanan ku eninna. Nin nanti kalo mau jajanin lagi jangan permen ya, biskuit aja” (nin terimakasih, aduh anak-anak senang sekali dikasih jajan oleh neneknya. Nin nanti kalo mau memberi jajan lagi jangan permen ya, biskuit aja”
 
Alhamdulillah karena kami terbiasa terbuka dengan orang tua, mamah pun bisa mengerti dan menjawab “siaaaaap!”
Lalu pertemuan selanjutnya nin tidak menyuguhkan aneka permen.
 
Pernah juga secara sengaja berdiskusi dengan anak-anak di depan sang nenek saat mereka sedang menikmati donat lezat pemberian nenek
 
“Alhamdulillah Allah kasih rezeki donat lewat nin, makasih nin. Anak-anak nin itu sayang sekali sama kalian, apa aja yang kalian mau pasti nin berusaha buat beliin. Itu rezeki kalian dari Allah lewat nin, tp pesan ummi, kalo kalian minta dan nin ada rezekinya silahkan, tapi kalo nin lagi gak ada gak boleh minta yang nin gak bisa”
 
Sang nenek pun menjawab dengan santai “siaaaap….”
 
Pernah pula suatu hari anak-anak dibawa ke pasar oleh neneknya, sepulang dari pasar mereka membawa jajanan yang selama ini dilarang oleh saya seperti pemen karet dan aneka permen lainnya. Jajan bersama nenek ternyata menjadi kesempatan bagi mereka membeli hal-hal yang dilarang orang tuanya. Maka saya pun harus berbicara pada anak-anak
 
“Anak-anak….. ummi tau kalian seneng banget jajan sama nin, kalian boleh minta jajan sama nin tapi tidak membeli barang yang kita sudah sepakat untuk tidak dibeli. Teteh tau kan ummi gak mau belikan permet karet karena adek fatih akan minta tapi adek belum ngerti cara mwmakanya. Berari barang yang dilarang sama ummi gak boleh juga ya minta ke nin”
 
Alhamdulillah anak-anak mau beikerja sama. Neneknya pun mengerti keinginan saya “aduh maap….maap nin gak tau. Oke siaaaap….”
Lalu sang ayah pun bercanda pada neneknya anak-anak “nin minggu depan warungnya jadi warung jus buah ya! Nanti kita bawa blender” Kami semua tertawa dan sang nenek sangat bersemangat menjawab
“Oh iya betul…betul… mau dibeliin buah apa? Siaaaap!”
 
Cinta nenek oh cinta nenek, mereka hanya ingin memiliki ruang dalam hati cucu-cucunya dengan membelikan apa yang menjadi kebutuhan. Dengan komunikasi yang terbuka tentang kado terbaik apa yang dibutuhkan sang cucu tanpa menghalangi keinginan mereka untuk me mberi, insya Allah nenek bahagia, cucu bahagia, orang tuapun bahagia. Tentu saja, rezeki cucu lewat nenek pasti akan meringankan keuangan orang tua. Kalau pemberian tepat sasaran, orang tua mana yang tidak senang menerimanya.
 
Cinta nenek oh cinta nenek…. cinta yang tak mampu dibendung oleh siapapun juga. Namun komunikasi yang terbuka diatas rasa hormat kita akan menjadikan bak air cinta yang meluap tersalur dengan semestinya.
 
Tapi bagaimanapun raga nenek sudah tua. Fisik mereka tak sekuat selagi mereka mengurus kita. Fisik mereka sudah terkuras saat mereka mengurus kita. Neneknya anak-anak sering sekali terbaring lemah, bahkan merasa sakit semua badan setiap kali banyak bermain dengan cucunya.
 
“Nin mah mendingan kieu, beliin koin di taman bermain, mayar tiket kereta api mini, ningali incu resep bari diuk dipinggir. Main di imah barudak jujumpalitan jeung garelut mah capek” kata nenek kepada petugas kereta api mini di sebuah taman bermain kota sambil duduk melihat cucunya tertawa.
 
Saya pun ikut tertawa mendengarnya tapi kemudian merenung mengingat perjuangan beliau yang melelahkan mengurus kami. Maka wajar saja jika pengasuhan nenek terhadap cucu sekedar cucu anteng. Karena mereka tidak punya banyak tenaga untuk menemani cucu-cucu beraktifitas seperti dahulu.
 
“Mun maen sasakali mah resep, mun dititah ngurus incu sapopoe mah, aduh teu sanggup, geus teu kuat” kata sang nenek (kalau sesekali bermain senang tapi kalau diminta mengurus sehari-hari tidak sanggup, sudah tidak kuat)
 
Ya begitulah, sepenggal kisah tentang cinta nenek. Cinta yang meluap dari kolam yang tertahan selama bertahun-tahun perjuangan merintis kebahagiaan.
 
Parung Bogor Jawa Barat
Dari seorang wanita yang kelak insya Allah akan menjadi nenek
 
Sumber gambar creativemarket.com
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here