Ummi: “jangan bi! jangan! Biar saja Faruq yang bereskan!”
 
Bibi yang tengah mengumpulkan sayur mayur makanan kelinci pun menghentikan pekerjaan. Sayur mayur itu berhambur di sekitar garasi rumah karena ulah Faruq (4 tahun). Ia merasa kesal karena kelinci nya kembali di masukkan kedalam kandang. Sementara ia masih ingin bermain dengannya.
 
Ummi: “ummi baru akan pergi ke supermarket, kalo makanan kelinci yang berserak disini sudah dirapihkan” kata saya dengan nada kokoh tanpa marah.
 
Faruq pun segera membersihkannya, ia tau kami tidak akan jadi pergi sebelum ia bertanggung jawab dengan apa yang telah ia lakukan. Bahkan saat bibi mau membantunya, Faruq menolak dan berkata “No…no… I can do it by myself”
 
Bi Siti adalah seorang ART para homeschooler. Sejak pertama kali ia datang kerumah, saya sudah berpesan. “Bibi, bibi itu kerja disini membantu pekerjaan saya bukan membantu anak- anak. Yang bisa dan harus dikerjakan anak-anak tidak boleh dibantu oleh bibi, kecuali saya yang meminta. Jangan membereskan mainan anak-anak atau buku setelah mereka selesai sekolah. Jangan membereskan bekas makanan anak, baju kotor mereka, atau apa saja bekas aktifitas mereka. Tanya saja bi ‘ayo ini punya siapa?’ biar mereka yang kerjakan sendiri, baru sisanya dirapihkan bibi”
 
Kadang bibi terlupa karena asyik membereskan rumah, maka jika kebetulan saya melihat bibi membantu, saya minta bibi menghentikannya lalu memanggil para tersangka yang harus bertanggungjawab dengan pekerjaan tersebut.
 
Ya! bi siti adalah ART para homeschooler, maka ia juga adalah gurunya anak-anak.
 
Ummi:” ok faruq, ummi masih ngajar yang lain, sekarang kamu ambil kelas memasak sama bibi ya”
 
Maka faruq pun sibuk di dapur mengambil kelas kesukaannya bersama bibi.
 
Ya, Bi Siti adalah ART para homeschooler, yang juga turut dibekali ilmu parenting.
 
Ummi: “Bibi, sabar ya bi, ini teh anak pinter, insya Allah nanti mau jadi ahli bahari yang memajukkan kelautan Indonesia”
Bibi: “duuuh pinter….pinter!”
 
Kala beliau harus berkali-kali membantu mengeringkan air yang tumpah, baik air minum yang dimainkan, air bekas cucian yang dieksplorasi, selang yang dinyalakan dan di semprotkan ke tanaman, bahkan air pel yang tumpah saat Fatih sang ahli air melakukan “sekolahnya”.
 
Ummi: “Bibi, sabar ya bi, ini teh anak pinter, insya Allah nanti mau jadi pengusaha makanan terbesar di seluruh dunia, yang dermawan dan paling banyak sedekahnya”
Bibi:.”sabar….sabar”
 
Kala beliau harus menyelesaikan sisa-sisa hasil prakarya Faruq dalam kelas memasak.
 
Seringkali juga bibi tiba-tiba memergoki Faruq yang sedang inisiatif memanjat kursi dan sibuk mengambil susu dan meraciknya sendiri.
 
Bibi: “astagfirullah… Ujang….lagi apa? Mmmm… Sabar….sabar” kata beliau saat melihat tetesan tumpahan susu atau serbuk-serbuk susu yang berserak.
 
Saya pun tidak ingin menambah beban pekerjaan bibi sebagai ART dari keluarga homeschooler, yang mungkin pekerjaannya sedikit lebih banyak dibanding keluarga yang anggotanya pergi ke sekolah atau keluarga yang lebih banyak menghabiskan banyak waktu di depan gadjet. Maka diluar waktu, menyusui, mengajar dan menulis saya pun tetap melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa, terutama mengerjakan pekerjaan sisa hasil eksplorasi anak-anak.
 
Ya! Bi Siti adalah ART para homeschooler, maka ritme kerja pun teratur mengikuti jadwal sekolah kami. Hanya dapat sempurna membersihkan seluruh lantai saat kami pergi ke masjid, lalu bersiap kembali kotor dan berserak saat kami mulai sekolah lagi.
 
Ya! Bi Siti adalah ART para homeschooler yang lama kelamaan mampu mengadop cara komunikasi dan langkah-langkah saya dalam menghadapi perilaku negatif anak-anak.
 
Bibi: “bu, barudak mah memang aya nu hese dibejaan. Untung ibu mah sabar, pan ibu mah nanya ka barudak ‘mau apa?’ batur mah mun barudak mararacem langsung we di ciwit” (ibu, anak-anak memang ada yang sulit diberitahu. Untung saja ibu sabar. Kalo ibu kan selalu nanya sama anak-anak ‘mau apa?’ Orang lain mah kalo anak-anak macam-macam langsung saja dicubit”
 
Lalu saya pun menjelaskan bahwa pada fasa-fasa tersebut anak masih kesulitan untuk mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Maka jika penyelelesaiannya hanya di cubit, anak-anak tidak akan belajar bersikap yang seharusnya. Alhamdulillah selama mendampingi kami, bibi tidak pernah berbicara dengan pilihan kata yang “membunuh karakter” anak. Beliau pun banyak mengadop pilihan komunikasi yang biasa saya lakukan dalam merespon perilaku anak. Saya sadar bahwa cita-cita saya terhadap anak-anak akan lebih berat untuk dicapai jika lingkungan sekitar tidak mendukungnya. Salah satu pihak yang perlu diajak mengerti tentang visi dan misi keluarga kami adalah bibi, karena bibi yang setiap hari berinteraksi secara langsung dengan anak-anak.
 
Ya! Bi Siti adalah ART para homeschooler yang kadang tersenyum, tertawa, memuji, takjub, geleng-geleng, atau mengusap dada saat melihat segala tingkah laku para murid di sekolah rumah kami. Beliau yang kelak akan menjadi saksi bagaimana anak-anak ini belajar dengan segala tingkah laku dan keunikannya. Semoga kelak anak-anak dapat membalas kebaikan beliau serta mengenang kudapan lezat yang selalu bibi siapkan sebagai hadiah di sela-sela pelajaran. Ada cireng, bakwan, gehu, otak-otak, semangka, pepaya, ice cream, yogurt dll
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang ingin melahirkan generasi yang mandiri meskipu memiliki rezeki ART dalam rumahnya
 
Sumber gambar: Majalahdia.net
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!
author

Mendidik Anak Dalam Kebaikan dan Keshalihan

Leave a reply "CKSMA B-4 ART Para Homeschooler"

Your email address will not be published.