CKSMA B-3 Orang Tua Sukses Itu …

0
360

Tarbiyatul Aulad – Saya ingin sedikit berbagi perasaan saya, tanpa bermaksud menyampaikan kekurangan seseorang yang hanya Allah lah yang tau kemuliaan dirinya. Tidak juga kemudian mengurangi rasa hormat, kagum dan bakti saya pada beliau. Setelah melepas kepergian Ali (12 tahun) ke pesantren tahfidz, ada rasa ragu terbesit dalam hati. Bukan ragu bahwa dia tidak akan mampu menjalaninya, karena Ali sendiri yang suatu hari pernah menuliskan cita-citanya. Satu diantara visi hidupnya adalah menjadi hafidz Quran. Ali sendiri juga yang menentukan targetnya, di usia kapan ia ingin menjadi hafidz quran. Ali sendiri pula yang menghitung berapa baris Al-Quran yang harus ia hafal setiap hari untuk mengejar cita-citanya. Meski ada tangisan saat perpisahan, serta kegelisahan menuju suasana baru, saya yakin insya Allah ia akan baik-baik saja dalam penjagaan Allah. Terlebih saat melihat raut muka kegelisahan dan kesedihan yang berubah saat kami melepasnya pergi ketika saya mengatakan “Kalau kamu sedang bersedih dan terasa ingin pulang, ingat saja ibumu (Almarhum) dan ingat saja cita-citamu” Lalu ayahnya pun menambahkan “Ali mau kasih mahkota kan?” Ali pun terlihat lebih kuat dan mantap, memeluk saya sebelum berpisah. Saya memang tidak mengantarnya, tapi ayahnya bisa melihat antusiasmenya saat tiba di Pesantren dan melihat aktifitas akhir pekan yang mengasyikan yang dilakukan para santri laki-laki. Ya! saya merasa ragu bukan karena itu. Saya ragu untuk menjawab pertanyaan apakah saya merasa pantas untuk dihadiahi seorang anak penjaga Al-quran, sementara saya….. sementara saya…. cukuplah Allah yang Maha Tau kelamnya masa lalu saya dan betapa sampai saat ini pun masih terseok-seok untuk bisa beribadah kepada Allah dengan baik. Pantaskah saya memiliki anak hafizh quran? itulah pertanyaan dalam benak saya yang Allah beri jawabannya pada hari itu juga.

Saat saya membuka Al-quran untuk bertilawah, tiba-tiba beberapa ayat yang saya baca adalah langsung menjawabnya
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur`ân untuk (menjadi) pelajaran, maka adakah orang yang (mau) mengambil pelajaran? [al-Qomar 54:17]”

Beberapa ayat ini pun diulang dalam surat yang sama. Saya pun terharu mengapa Allah menggerakkan saya untuk membuka halaman tersebut, padahal bukan batas tilawah saya saat itu. Lalu Allah memberikan jawaban lain pada saya.

Hari itu, ibu saya berkunjung untuk menengok cucu yang baru di sunnat. Selepas shalat maghrib berjamaah, tiba-tiba Allah mengilhamkan saya untuk mengajukan sebuah pertanyaan. “Mamah, maukah mulai saat ini setiap kali berjunjung ke rumah ini, mamah belajar membaca iqro?” Ibunda pun mengangguk tanda setuju.

Astagfirullah… astagfirullah… Alhamdulillah…alhamdulillah….. Allahu Akbar…. Allahu Akbar!. Betapa malu diri ini pada Allah, berpindah tempat, berhijrah dan melanglang buana mengikuti suami sambil mengajarkan Al-quran tetapi tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengajar Al-quran pada ibunda sendiri. Saat itu shafiyah sedang disamping neneknya, saya berkata “Shafiyah…. waktu nin kecil, nin tidak pernah punya kesempatan belajar mengaji Al-quran. Tidak ada yang mengajarkan nin membaca Al-quran. Lalu nin berdoa pada Allah ingin sekali punya anak-anak sholih meski nin saat itu belum mengerti tentang islam. Lalu Allah mempertemukan nin sama Aki yang mengerti islam dan pandai mengaji. Lalu sekarang semua anak-anak nin bisa mengaji Al-quran. Nin selama ini mengaji pakai tulisan latin. Sekarang nin mau belajar bareng Shafiyah yah”

Shafiyah pun mendampingi sang nenek yang mengucap satu per satu huruf hijaiyah. Berulang kali salah dan di perbaiki makhrojnya oleh saya. Lalu air mata itu menetes. Setelah bertahun-tahun berjuang menjadi tulang punggung keluarga, pulang di malam hari karena ayah bertahun-tahun berbaring sebelum mengkahiri hayatnya, akhirnya kami bisa duduk bersama untuk belajar mengaji. Saya belajar mengaji pada orang lain (semoga Allah merahmati semua guru yang mengajarkan saya Al-quran). Saya memperdalam tahsinul tilawah saat saya kuliah. Tidak ada kesempatan mengajarkan ibu sendiri untuk belajar quran karena kesibukan di kampus dan kesibukan mamah mencari nafkah keluarga. Kemudian setelah itu saya segera berhijrah melanglang buana mengikuti suami. Selama ini mengajar Al-quran pada orang lain, ada doa yang saya ucapp agar Allah pun berkenan kelak memberi kesempatan pada ibunda untuk belajar quran. Saya tidak meragukan ketakwaan beliau, karenak etakwaanya telah melahirkan berbagai kesabaran dan kegigihan beliau mengarungi pahitnya kehidupan. Meski tidak banyak ayat yang di hafal, saya yakin banyak sekali apa yang tertuang dalam Al-quran telah beliau amalkan dalam kesehariannya. Terbukti dengan banyaknya kaum fakir, miskin, dan murid-murid yang mencintai beliau. Beliau hanya tidak pernah mendapat kesempatan untuk belajar membaca Al-quran dan memdalaminya.

“Ya Allah mah…. maaf, selama ini kiki mengajar al-quran pada orang lain, baru kali ini punya kesempatan mengajar mamah” kata saya. “Kiki mungkin ini kata Allah kenapa kamu harus pulang dulu dan dekat mamah. Kamu harus mengajarkan mamah mengaji” sambil menahan tetesan air mata beliau berkata. “Kiki, apa mamah boleh selama ini membaca quran dengan huruf latin?” tanya beliau. Saya tau beliau rajin berdzikir, rajin qiyamul lail, tapi selama ini beliau hanya membaca huruf latin dari ayat-ayat quran. “tidak apa-apa mah, yang penting mamah tidak berhenti belajar, Insya Allah mamah tetep dapat dua pahala meski mengaji terbata-bata, jadi kalo Allah menutup usia mamah, semoga mamah sudah bisa mengaji Al-quran atau sedang mempelajarinya”

Selama jauh berpisah saya berusaha mencari guru untuk mamah, tapi mamah selalu khawatir dengan banyaknya penyimpangan-penyimpangan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dalam mendakwahi islam. Selama ini proses dakwah dalam keluarga hanya dapat dilakukan jarak jauh. Tapi kini Allah mendamparkan saya ke tempat ini, saat saya meminta pada Allah untuk mendamparkan keluarga kami ke tempat dimana kami bisa lebih dekat pada surga. Allah damparkan keluarga kami dengan menghilangkan pekerjaan suami di Amerika. Dan hari itu pula Allah telah memberi saya harapan bahwa saya berhak memiliki cita-cita memiliki anak-anak yang hafizh quran meski pengetahuan saya akan islam alakadarnya. Allah pun telah memberi karunia kepada ibu saya berupa anak-anak yang insya Allah selalu Allah jaga, dan pada akhirnya semua bisa membaca Al-quran bahkan mengajarkannya. Hanya bermodal doa dan keihlasan beliau menerima seorang suami sholih yang berbeda usia 25 tahun, demi perbaikan kehidupannya dalam agama.

Barakallah mah…. barakallah karena Insya Allah mamah telah menjadi orang tua yang sukses ketika mamah telah mengantarkan kami menjadi pribadi yang lebih baik dari mamah dan bapak. Semoga Allah mengistiqomahkan kami agar mamah dan bapak menjadi sebenar-benarnya orang tua yang sukses di dunia dan akhirat. Allahu Akbar!!

Batujajar, Jawa Barat
Dari seorang hamba yang berharap generasi yang dilahirkannya lebih baik dari dirinya
Kiki Barkiah

sumber gambar business.financialpost.com

Baca juga Kala Tangan Kita Diayun

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here