CKSMA B-19 Ummi.. Bapak.. Terimakasih Karena Masih Percaya, Padahal….

0
436

Begitulah cuplikan isi surat yang Ali tulis di usia 12 tahun pada saat ia tengah berkonsentrasi menghafal quran di sebuah Pesantren. Begitu haru perasaan saya membacanya, karena bagi saya kalimat itu memberi gambaran sebuah penyesalan diri seorang anak yang pernah berbohong pada orang tuanya. Juga memberi gambaran rasa enggan untuk melakukan kebohongan lagi kepada orang tua yang masih terus menerus percaya padanya meski pernah ia bohongi. Kalimat itu juga memberikan gambaran bahwa diantara kita sedang tidak ada penghalang untuk mengakui kesalahan di masa lalu. Entah apa yang terjadi di Pesantren sehingga mendorongnya untuk menuliskan itu pada kami. Hanya doa keberkahan yang dapat kami panjatkan bagi siapapun para guru yang menjadi perantara hidayah anak-anak kami.
Ada satu masa saat kami belum bersemangat mencari ilmu pengasuhan anak, kami merespon kebohongan Ali pertama kali dengan tangisan histeris kekecewaan sambil memeluknya dengan erat. Sambil terus mempererat pelukan saya berteriak “kenapa kamu bohong??? kenapa kamu harus bohong sama ummi? Kenapa anak ummi yang sholih harus bohong??” Peristiwa itu adalah kali pertamanya saya marah pada Ali dengan suara meninggi. Saat itu ia berusia 7 tahun. Namun sejak peristiwa itu, kami malah menemukannya berkali-kali takut untuk berkata jujur kepada kami.Lalu saya pun mengingat masa lalu saya. Keadaan seperti apa yang membuat saya memilih berbohong dihadapan orang tua. Saya pun teringat, bahwa semakin keras orang tua saya menentang, semakin takut bagi saya berbuat jujur dihadapan mereka. Sekali saya berbohong, maka saya akan menutup kebohongan dengan kebohongan lain.Kami tidak ingin hal ini terulang pada anak-anak kami. Kami tidak ingin anak-anak memiliki perasaan takut untuk mengakui kesalahan mereka dihadapan kami. Kami tidak ingin anak-anak enggan untuk terbuka dengan keadaan mereka kepada kami. Kami ingin hadir bagi mereka sebagai orang tua yang memahami perasaan mereka, menghargai pendapat mereka, menanti proses kedewasaan mereka, serta menerima kesalahan-kesalahan mereka sebagai bagian dari perjalanan kehidupan mereka.

Kami tidak ingin kemarahan kami dalam hal-hal yang tidak kami sepakati dengan mereka, membuat kami kehilangan kesempatan untuk menggali hikmah dibalik kesalahan dan kegagalan yang dialami anak-anak kami. Karena keberkahan dari sebuah kegagalan adalah bagaimana kegagalan tersebut menjadi cambuk bagi kita untuk semakin lebih baik lagi.

Mencoba menyelami perasaan saya sebagai seorang anak, ternyata hal yang sangat penting yang saya butuhkan dari orang tua adalah rasa percaya. Rasa percaya bahwa sesungguhnya saya tidak berniat buruk meski terkadang saya melakukan kekhilafan. Rasa percaya bahwa saya sedang mencoba untuk menyelesaikan persoalan dengan mandiri meski terkadang banyak salah langkah. Rasa percaya bahwa saya telah berusaha melakukan yang terbaik meski kadang belum sempurna. Rasa percaya bahwa saya terus belajar untuk lebih baik meski saat ini hasilnya belum dapat dilihat orang tua. Rasa percaya bahwa perbedaan- pandangan diantara kami adalah upaya-upaya perbaikan dan bukan bentuk pembangkangan. Rasa percaya dari orang tua memberikan energi tersendiri bagi saya untuk terus bangkit dari kegagalan, mempersembahkan yang terbaik sebagai wujud bakti seorang anak kepada orang tua. Namun jika rasa percaya itu hilang, seringkali keikhlasan amal tergoda dan berubah menjadi pembuktian demi pengakuan. Ketika rasa percaya itu hilang, seringkali muncul keinginan untuk menyembunyikan kekurangan dan perbedaan, bahkan ingin menutupi kesalahan-kesalahan.

Setelah menemukannya berkali-kali ragu untuk berkata jujur kepada kami, saya berusaha untuk tidak fokus pada kebohongannya. Saya berusaha mencari tahu akar masalah yang menyebabkan ia banyak melakukan kekhilafan dan memilih untuk berbohong demi menyembunyikan kesalahannya. Setelah berusaha merumuskan akar masalah yang kami temui saat ia berusia 7 tahun dulu, maka didapatlah sebuah kesimpulan bahwa Ali mengalami ketidakcocokan sekolah dengan metode formal. Bersamaan dengan itu, ia pun mengalami kecemburuan karena berkurangnya perhatian sejak saya memiliki adik-adik barunya.

Satu persatu solusi kami tempuh, perbaikan kami lakukan agar mengurangi hal yang menyebabkannya melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan. Sejak saat itu, meski membutuhkan waktu yang cukup panjang, kami barusaha memperbaiki hubungan kami. Kami berusaha untuk tidak menunjukkan kemarahan yang membuat ia takut untuk mengakui kesalahan. Kami berusaha untuk fokus memintanya mengupayakan solusi paska terjadi kesalahan, baru kemudian setelah tenang memintanya untuk mengurai sendiri hikmah dibalik kejadian. Setiap kali selesai menggali hikmah saat ia melakukan kesalahan besar, saya selalu mengatakan padanya “ummi percaya kamu bisa lebih baik lagi”.

Setiap mencurigainya berbohong, kami tetap mengundangnya untuk berkata jujur, sambil mengingatkan tentang bagaimana pandangan Allah terhadap kebohongan dan kejujuran. Kami juga meyakinkan dirinya bahwa kejujuran tetap lebih baik meski konsekuansinya terkadang pahit, sementara kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan lain yang membuat keadaan lebih sulit. Kemudian saat ia mengubah perkataannya menjadi sebuah kejujuran, kami memberikan apresiasi atas kejujurannya, lalu fokus memintanya mempertanggungjawabkan kesalahan.

Setelah proses ini kami lalui, perbaikan-perbaikan pun kami temui. Ia lebih terbuka untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Ia pun percaya bahwa kami terus mempercainya dalam menjalani proses pembelajaran sebagai insan manusia. Sehingga kondisinya kini jauh lebih baik. Sejalan dengan itu, komunikasi intim untuk mengetahui perasaan dan pandangannya sebagai seorang anak yang beranjak menjadi baligh sering kami bangun. Alhamdulillah kini Ali lebih memilih untuk mengungkapkan kesalahan dengan penuh kejujuran meski dengan wajah merasa bersalah dan penuh rasa menyesal dibanding memilih berbohong untuk kepentingan sesaat.

Kiki Barkiah
Dari seorang ibu yang mengejar ketertinggalan atas kesalahan-kesalahan di masa lalu

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here