CKSMA B-18 Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian

0
391
Karena Kalian adalah Kalian dan Masa Depan Kalian adalah Milik Kalian
 
Suatu hari saat homeschooling sedang berlangsung, Shafiyah berkata “Ummi, Shiddiq is smarter than me at math, but i’m better at reading” Saya pun tersenyum haru karena pernyataan yang Shafiyah sampaikan tidak terkesan bahwa ia merasa minder dengan kemampuannya dalam hal matematika. Bahkan ia berusaha untuk menemukan keunggulan miliknya. Shiddiq memang memiliki kecerdasan yang unggul dalam matematika sehingga saat ini level matematika Shiddiq sama dengan Shafiyah. Bahkan Shiddiq memiliki kecepatan menganalis yang lebih baik dari Shafiyah. Shafiyah sering menjadi murid Shiddiq pada pelajaran matematika. Sebaliknya, saya sering mendelegasikan pelajaran latihan membaca untuk Shiddiq, baik bahasa Inggris maupun Indonesia, kepada Shafiyah. Di usia yang sama dengan Shiddiq, Shafiyah mampu membaca buku bahasa Inggris dengan tulisan yang banyak sementara Shiddiq membutuhkan waktu yang lama untuk membaca satu kalimat “Ya…. everybody has their own potensial, teh…. teteh juga pinter kok matematikanya, walau gak secepat Shiddiq. Tapi teteh lebih rajin dan tekun dalam belajar” balas saya menyemangatinya.
 
Suatu hari saat berkunjung ke Pesantren, guru pendamping Ali menyampaikan bahwa pencapaian hafalan Ali menurun. Saat tulisan ini dibuat, kemampuan Ali dalam menghafal menjadi 2 halaman sehari, padahal sebelumnya ia sering mencapai 4 halaman sehari. Saya berusaha membuka pembicaraan untuk mencari tau penyebab penurunannya.
 
“Aa, ummi tidak berani menuntut Aa untuk menjadi hafidz quran, ummi juga tidak berani memasang target berapa lembar yang harus Aa capai setiap hari. Ummi sadar, ummi bukan seorang hafizhah. Ummi juga ngos-ngosan untuk menghafal satu ayat saja. Ummi cuma bisa berdoa semoga Allah memudahkan Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi dan bapak cuma bisa bantu dengan doa dan sedekah. Ummi cuma minta Aa do the best aja. Aa adalah Aa dengan kemampuan khas milik Aa. Kamu tidak usah liat orang lain yang lebih hebat dari kamu dalam menghafal. Ummi hanya ingin melihat diri kamu kebelakang . Kamu harus lebih baik dari diri kamu yang kemarin. Kalau kemarin Aa mampu mencapai 4 halaman per hari, berarti harus dicari tahu penyebabnya mengapa sekarang pencapaian Aa menurun. Ummi tidak sedih tentang berapa lembar yang Aa mampu capai, ummi cuma merasa sedih kalau kamu menurun dari kamu yang kemarin. Ummi cuma merasa sedih kalau Aa gak do your best” Kata saya menegaskan ketika ia mulai membandingkan dimana posisi kemampuannya dibanding teman-temannya.
 
Ada banyak teman-temannya yang luar biasa dalam menghafal, meski kemampuannya bukan yang terendah diantara siswa yang ada. Saya tidak peduli bagaimana kemampuan anak-anak lain. Saya hanya ingin anak saya melakukan yang terbaik sesuai dengan potensi yang Allah berikan kepadanya.
 
“Sekarang terserah Aa, Aa yang punya cita-cita menjadi hafizh di usia sebelum 15 tahun. Silahkan Aa yang menentukan kecepatannya. Kalau Aa mau berlama-lama menghafal di pesantren, insya Allah ummi dan bapak terus berjuang mencari biayanya. Kalau Aa mau segera pulang dan berkumpul kembali, silahkan berjuang menyelesaikanya”
 
Sampai saat tulisan ini dibuat, saya dan ayahnya masih mencari tahu penyebab kemundurannya. Analisis sementara kami, sepertinya Ali sedang membutuhkan variasi kegiatan karena setiap anak memiliki gaya khas berbeda dalam belajar termasuk dalam menghafal quran. Bagaimanapun mengkarantina diri untuk fokus menghafal quran membuatnya kehilangan beberapa kegiatan yang ia gemari. Namun saya tidak ingin ia menyerah. Saya ingatkan terus cita-citanya untuk menyelesaikan hafalan quran lebih cepat agar setelah itu ia bisa fokus mengejar cita-citanya.
 
“Ummi gak mau berharap Aa pulang cepet, daripada nanti ummi merasa kecewa. Lebih baik dalam bayangan ummi, ummi akan menunggu Aa pesantren selama 2 tahun. Jadi kalau Aa pulang lebih cepet kan jadi kejutan” kata saya. Rupanya ia merasa kesal dengan pernyataan saya. Dengan perasaan yang terbakar ia berkata “No i don’t want it! I want to finish it before my birthday” “ya terserah, Aa sendiri yang menetukan, ummi cuma minta satu saja, do your best!” Timpal saya.
 
“Ummi both of them are so hard. If I go slow it will make me ‘bosan’ and it takes a long time to go back and homeschool with you. But if I go fast, it is hard” kata Ali. ” Ali gak ada sesuatu yang mudah di dunia ini kecuali yang Allah yang memudahkan. Ummi hanya bisa berdoa semoga Allah memberikan kemudahan bagi Aa dalam menghafal Al-quran. Ummi cuma berharap jangan sampai menyerah meraih cita-cita itu. Kalau Aa merasa sedang jenuh dan membutuhkan istirahat tidak apa-apa. Because this is a long journey in your life. Yang penting kamu terus mengejar cita-cita itu” jawab saya. “I know ummi, and if I finish memorize the quran, it doesn’t mean i’m done. I just start it!” Kata Ali.
 
Anak-anakku……
Kalian adalah kalian dengan potensi khusus yang Allah anugrahkan dalam diri kalian masing-masing. Kami hanya sedang berjuang untuk menggali lebih dalam tentang apa yang kalian miliki. Kami hanya sedang berjuang untuk menanamkan visi misi hidup yang mulia, agar apapun yang kalian miliki saat ini kalian gunakan untuk meraih cita-cita hidup mulia itu. Kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami pun tak berani menaruh cita-cita kami yang kandas untuk kalian wujudkan. Karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian. Kami hanya ingin menjaga gawang untuk memastikan bahwa setiap pilihan kalian hari ini adalah dalam rangka meraih cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga.
 
Namun anak-anakku….
Ada kalanya dalam hidup ini kita tidak dihadapkan pada sebuah pilihan untuk memilih sesuatu yang kita mampu dengan baik melakukannya, memilih sesuatu yang sesuai dengan potensi yang kita miliki. Ada kalanya kita harus melakukan sesuatu meski kita tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melakukannya. Anak-anakku jika kalian tidak mampu meraih sesuatu dengan berlari seperti orang lain, maka lakukanlah dengan berjalan. Meskipun kalian membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai, namun pada akhirnya kalian mencapai satu titik yang sama dengan orang lain. Jika kalian tidak mampu melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan dengan berdiri seperti orang lain, maka lakukanlah dengan duduk. Jika kalian tidak juga mampu melakukannya dengan duduk, maka lakukanlah dengan berbaring. Prestasi kalian adalah seberapa besar kalian mampu mendobrak diri, menembus batas, menguras habis semua potensi yang kalian miliki untuk melakukan sesuatu yang harus kalian lakukan, perlu kalian lakukan dan ingin kalian lakukan. Satu hal saja pinta kami, lakukan apapun itu asalkan itu semakin mendekatkan kalian pada cita-cita mulia itu. Sebuah cita-cita untuk kembali berkumpul utuh bersama keturunan-keturunan kita dengan kedudukan yang istimewa di surga. Jadilah diri kalian apa adanya karena kalian adalah kalian dan masa depan kalian adalah milik kalian.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berjuang dengan keterbatasan potensi yang dimilikinya
 
Sumber gambar: www.discoverstandrews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here