CKSMA B-14 Selagi Masih Ada Waktu…..

0
310

Tiba-tiba saya terkaget, terbangun pukul 11 malam karena deringan telepon rumah. Saya merasa pasti ada berita penting. Saat itu handphone memang mati, dan seseorang yang menelpon ke rumah di malam hari pasti ingin menyampikan pesan penting saat itu juga.

Bapak: “assalamu’alaikum mi tolong bukain pintu!”
Ummi: “wa’alaikumsalam haaaah bukain pintu?”
Bapak: “iya bapak pulang, sekarang diluar”

Saya tidak menduga bapak pulang hanya karena ada libur tahun baru Muharram. Tidak ada rencana pulang ke Bandung karena libur hanya satu hari.

Kejutan pagi hari bagi anak-anak adalah kedatangan sang ayah yang diluar rencana. Lalu bapak seharian mengajak anak melakukan kegiatan kunjungan belajar. Bapak mengajar anak-anak homeschooling dengan berkunjung ke pusat alat peraga iptek. Masya Allah, ternyata bapak tidak hanya menjadi ayah yang dirindukkan anak-anaknya, tetapi bapak adalah ayah yang merindukan anak-anaknya.

Awalnya saya menyangka bahwa kerepotan akibat LDR akan lebih banyak dialami oleh saya dan anak-anak. Kenyataannya justru sebaliknya. Saya tidak terlalu merasakan perbedaan kerepotan yang berarti, karena repot mengurus anak adalah pekerjaan sehari-hari. Justru bapak yang merasa “kerepotan” berpisah dengan anak-anak. Berkali-kali terdengar curahan hati dari beliau bahwa LDR dan hidup di kostan itu terasa sepi.

Ummi: “jadi pak enakkan mana? Tinggal barengan sama Ummi dengan repot ngurus anak-anak, atau istirahat dan tidur nyenyak di kostan sendirian? Hehehe”
Bapak: “enakan di rumah mi sama anak-anak”
Ummi: “walau capek dan repot pak?”
Bapak: “iya mi….. Abis nanti juga anak-anak kalo sudah besar kan akan pergi berpisah, masa sih sekarang mereka masih kecil sudah juga berpisah sama bapak”

Cinta anak oh cinta anak……
Cinta yang selalu menimbulkan kerinduan. Bahkan sang ayah rela berlelah-lelah hanya untuk sebuah waktu berkualitas bersama anak-anak. Mengajak anak-anak kunjungan belajar hampir setiap akhir pekan saat bertemu keluarga itu adalah pekerjaan yang membutuhkan energi besar. Kadang bapak harus berjalan sambil menggendong anak-anak yang kelelahan. Belum lagi sampai rumah, anak-anak masih juga ingin bermain kuda-kudaan dengan sang ayah.

Kami memang tidak pernah tau, seberapa lama lagi sisa waktu yang Allah berikan untuk bercengrama dengan mereka. Kami tidak pernah tau berapa banyak lagi kesempatan yang Allah berikan untuk mendidik dan menanamkan kebaikan bagi mereka. Maka sesibuk apapun kami, selelah apapun kami, kami berkomitmen untuk tetap memiliki interaksi dalam kegiatan positif dan berkualitas bersama anak-anak. Terutama kegiatan dalam rangka mentransfer ilmu yang bermanfaat bagi masa depan mereka. Kami tidak dapat menjamin bahwa warisan dalam bentuk harta bagi anak-anak akan tetap ada dan bermanfaat secara berkah selamanya bagi anak-anak. Tetapi kami yakin bahwa menanamkan keimanan dan membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat akan terus menjaga mereka meski kelak kami telah tiada. Kami sadar bahwa kebersamaan dengan mereka tidak akan lama. Kelak mereka akan pergi satu persatu meraih impiannya. Tetapi kami ingin kebersamaan kami bersama mereka hari ini menjadi bekal hidup dan kenangan kisah yang takkan terlupa selama-lamanya. Mencari dunia tidak pernah akan ada puasnya. Mencari harta dengan banyak meninggalkan keluarga juga tidak akan pernah mencapai batas kecukupannya. Maka selagi ada waktu, selagi ada usia, selagi ada kesempatan untuk bersama, disitulah masa dimana kami menanamkan benih kebaikan dan memperkuat cinta diantara keluarga.

Ya, kami memang keluarga homeschoolers. Hampir sebagian besar transfer ilmu untuk anak-anak hadir melalui pengajaran kami berdua. Pernah terlintas berfikir bahwa bagaimana jika sewaktu-waktu saya dipanggil Allah SWT, bagaimana sekolah anak-anak? Astagfirullah, was-was syeitan sering kali berniat menggelincirkan niat baik seorang hamba. Apalagi yang perlu dikhawatirkan ketika sesuatu telah dititipkan kepada Sebaik-baik Penjaga. Allah pula yang kelak akan mengganti dengan sekian guru terbaik untuk anak-anak saat kami tak lagi mampu mengajar mereka. Tetapi biarlah kami terus berburu pahala menjadi pendidik pertama dan utama sampai batas akhir kami tak lagi mampu melakukannya. Selagi masih ada waktu….. Selagi masih ada waktu….. Tak ingin pahala-pahala yang seharusnya dapat kami miliki diambil oleh pihak-pihak lain yang menggantikan beberapa tugas kami. Selagi masih ada waktu…. Selagi masih ada waktu… Kami ingin terjun sendiri mendidik anak-anak kami meski disela-sela kelelahan kami. Semoga Allah segera mengabulkan doa kami untuk kembali berkumpul dalam satu rumah bersama bapak.

Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang berbahagia memiliki keluarga yang saling merindukan
Kiki Barkiah

Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here