CKSMA B-11 Aku Ingin Mengantarkanmu Hingga Engkau Terlanjur Mencintai Kebaikan

0
283
Suatu ketika di Amerika kami bermain di park, ada segerombolan anak muda dengan gaya pakaian yang hampir serupa, memakai celana longgar yang hampir merosot. Semua anak-anak muda ini menggunakan tato pada tubuhnya membawa radio kecil lalu memasang musik keras-keras.
 
Ummi: Liat tuh anak-anak, kalian mau gak kayak gitu? kata mereka pakaian mereka itu cool, keren. Setel musik keras-keras sambil jalan, buat mereka itu cool. Kalian mau gak kayak mereka? kata mereka yang kayak gitu itu keren lho
 
Anak-anak pun spontan merespon dengan jawaban No…… Alhamdulillah mereka sangat tidak tertarik menjadi “keren” dan “eksis” dengan pilihan tema seperti itu.
 
Di waktu yang lain……
 
Shafiyah: “Ummi why my friends in TPA just wear hijab when they go to the mesjid? But i wear hijab every time i go outside?
Ummi: “Karena memang mereka belum wajib memakai hijab, Shafiyah juga belum wajib memakai hijab. Jadi terserah shafiyah, mau pakai jilbab terus boleh, mau kadang-kadang dibuka seperti temen-temen juga boleh kalo belum baligh”
Shafiyah: “no i don’t want it, i want to wear hijab every time i go outside”
 
Begitulah Shafiyah, ia selalu sibuk mencari hijabnya saat ia akan keluar teras rumah. Bahkan kala saya memintanya memanggil tukang buah yang lewat, dia pun panik berkata
 
“wait ummi i have to find my jilbab first”
 
Alhamdulillah Shafiyah telah memilih untuk terus menggunakan hijabnya setiap kali bertemu lelaki non mahram. Pernah satu malam kami membahas panjang tentang konsep mahrom hanya karena Shafiyah bertanya didepan siapa saja ia harus menutup hijabnya.
 
Di waktu yang lain…….
 
Ummi: “Aa kamu gak papa kan sedikit gak nyambung sama yang lain karena kamu gak ngerti lagu-lagu yang beredar di kalangan remaja?
Ali: “It’s oke ummi, justru Ali lagi mikir gimana caranya bikin xxxx ( seorang kerabat) sering nyalain murottal quran. Karena disana begitu sepi pasti langsung nyalain musik. Kayak kita aja di rumah, kalo sepi langsung nyalain quran. Memang sih xxxx suka tanya aa dulu kalo mau nyalain musik ‘is it ok for you?’ aa bilang aja sama dia ‘ya tapi jangan keras-keras ya’. Aa juga lagi mikir gimana caranya yyyy (kerabat yang lain) bisa berhenti merokok. Soalnya udah kecanduan banget mi”
 
Alhamdulillah sujud syukur pada Allah ketika anak-anak terlihat memiliki keteguhan dalam bersikap, tidak mudah terwarnai lingkungan, bahkan semangat dalam berdakwah, mewarnai lingkungannya dengan kebaikan meski hanya diam memberi teladan.
 
Di waktu yang lain…..
 
Suatu ketika kami diundang dalam sebuah pesta ulang tahun kerabat, ada hingar bingar musik dalam acara. Tiba-tiba Shafiyah mendekat dan berkata
 
Shafiyah: “ummi i don’t like party because it has a lot of music”
 
Ditengah acara, Ali dan Shafiyah pergi kedepan panggung saat mc menantang siapa yang ingin mendapat hadiah. Ternyata tugas yang diberikan adalah menyanyi. Spontan wajah mereka kebingungan karena mereka belum lancar berbahasa Indonesia, juga tidak mengenal lagu-lagu Indonesia. Saya pun berteriak “Gak bisa pak, mereka gak bisa nyanyi bahasa Indonesia, ” Lalu MC bertanya, ” “bisanya apa?” Saya menjawab “bisanya ngaji”.Lalu mereka berdua pun duet tasmih hafalan surat An-Najm di depan para undangan.
 
Alhamdulillah sujud syukur pada Allah ketika melihat mereka masih dapat berpartisipasi dalam sebuah lingkungan, berbaur tanpa harus sepenuhnya melebur. Tetap diterima oleh masyarakat dengan identitas apa adanya mereka.
 
Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah pertanyaan besar yang terbesit dalam hati saya sebagai orang tua. Mampukah anak-anak tetap memegang teguh prinsip keyakinan yang kami tanamkan jika mereka kelak terjun pada realita kehidupan yang kenyataannya berbeda dengan apa yang kami yakini bahkan sebagian dalam kondisi keterpurukan? Mampukah anak-anak tetap mempertahankan identitas diri yang kami tanamkan ketika masuk pada usia baligh dimana saat itu keinginan untuk menjadi sama dengan orang lain muncul begitu kuat? Ada satu prinsip yang kami tancapkan kuat saat itu. Kami ingin mengantarkan anak-anak agar di usia baligh ia telah paham akan siapa diri mereka, apa tujuan hidup mereka, bahkan telah mengetahui apa yang ingin mereka lakukan di dunia. Kami ingin sekali saat usia anak-anak baligh mereka telah memiliki kebanggaan atas eksistensi positif yang mereka pilih, sehingga apapun konsep “keren” yang sedang populer di kalangan remaja saat itu tidak akan menggoyahkan pilihan mereka dalam memilih tema eksistensi di mata Allah.
 
Maka sejak saat itu kami meluangkan begitu banyak waktu untuk anak-anak dalam menyajikan kisah-kisah teladan. Kami tidak ingin anak-anak salah memiliki idola. Kami memilih untuk tidak banyak menghadirkan cerita karakter kartun populer kecuali yang membahas tentang nilai teladan kehidupan. Kami memilih untuk tidak membelikan sekian banyak produk dengan gambar karakter karena kami tidak ingin mereka amat sangat mengidolakannya. Kisah nabi, kisah Rasululullah SAW, kisah para sahabat, kisah tokoh-tokoh yang berprestasi, kisah teladan, kisah kehidupan kekinian yang sarat hikmah, menjadi santapan sehari-hari anak-anak. Kami berusaha untuk selalu ada bahan diskusi yang terkait dengan ilmu kehidupan setiap harinya bersama anak-anak.
 
Kami juga berusaha menyalurkan energi mereka dalam kegiatan positif. Memberikan berjuta wawasan dan pengalaman yang bisa menawarkan sekian bidang untuk kelak mereka pilih dalam mengemban peran kekhalifahan. Kami ingin sekali ketika mereka masuk usia baligh mereka sudah memilih bidang yang ingin mereka tekuni untuk masa depan mereka. Sehingga mereka sama sekali tak berkeinginan dan tak memiliki waktu untuk melakukan kesia-siaan seperti apa yang dilakukan remaja saat ini. Kami yakin ketika seorang anak telah terpaut hatinya dengan idola yang memberi sosok teladan, ia akan mengerahkan segala daya upaya untuk meneladaninya. Kami yakin ketika seorang anak telah terpaut hatinya dengan mimpi-mimpi kebaikan, ia akan mengerahkan segala daya upaya untuk meraihnya.
 
Tidak mudah memang memiliki anak-anak di usia baligh. Tapi sejauh melihat perkembangan Ali, alhamdulillah ia masih bersemangat menyibukkan diri dalam menapaki mimpi-mimpi yang pernah ia tuliskan sebelum menginjak usia 12 tahun. Kami memang bercita-cita di usia 14 tahun anak-anak kami sudah mulai secara fokus mempersiapkan ilmu untuk mengambil peran dalam kehidupan. Dan kami ingin sekali kelak ketika mereka memasuki usia 14 tahun, kami telah mengantarkan mereka sampai titik dimana hati mereka telah terlanjur mencintai kebaikan. Maka diri ini ingin terus, terus, terus, dan terus menjaga mereka dalam lingkungan yang penuh kebaikan, mengenalkan mereka pada sosok yang penuh kebaikan, menginspirasi mereka pada sekian mimpi-mimpi kebaikan, sampai hati mereka terlanjur mencintai kebaikan, bukan kesia-siaan apalagi kemaksiatan.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang ibu yang tengah menemani buah hati dalam masa-masa kritis kehidupannya
 
Sumber gambar campusreform.org
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here