CKSMA B-10 Bila Engkau Memang Harus Bekerja

0
388
 
Kiki: “Mah, banyak follower kiki yang nanya gimana mamah dulu mendidik anak padahal mamah bekerja dari pagi sampai malam? Gimana caranya supaya anak-anak baik-baik saja padahal mamah gak banyak waktu bersama kita?”
 
Tiba-tiba mata sang ibu berkaca-kaca, dengan sedikit terbata ia mengurai kata. Mungkin pertanyaan ini membawanya bernostalgia. Mengingat perjuangannya sebagai ibu dari 5 anak, dengan profesi sebagai guru, sementara suami beliau yang berumur 25 tahun lebih tua, sudah hampir masuk usia non produktif saat menikahi beliau. Perjuangan bahwa kelak akan menjadi tulang punggung keluarga sudah beliau bayangkan ketika memilih menerima pinangan sang suami. Hari-hari terlewati dengan penuh perjuangan, terlebih sang suami yang berprofesi sebagai dosen pun memiliki pengahsilan yang sederhana.
 
Mamah: “Pertama kalau seorang istri harus bekerja, betul-betul ia niatkan karena Allah, demi anak-anaknya”
Kiki: “jadi mamah, seandainya dulu bapak kaya dan penghasilan cukup, mamah mau tetap bekerja?”
Mamah: “Ya tidak atuh, mamah juga pengen seperti kalian tinggal dirumah saja mengurus anak-anak. Makanya mamah itu tahu pahitnya istri bekerja, mamah pernah berdoa pada Allah supaya nasib ini hanya cukup dirasakan sampai mamah saja, tidak perlu sampai anak-anak”
 
lalu ibuda pun melanjutkan
 
Mamah: “yang kedua, perempuan harus memastikan bahwa pekerjaannya sebersih mungkin, rezeki yang akan dibawa pulang halal dan bersih. Yang ketiga setiap kali mamah mau melangkah keluar rumah untuk bekerja mamah selalu berdoa pada Allah ‘ya Allah…aku pergi demi anak-anaku, tolong jaga mereka ya Allah’. Trus kalo mamah kan gak bener-bener ninggalin, walau mamah pulang malam tapi kan bapak ada dirumah lebih banyak, ada uwa juga, jadi kalian juga baik-baik aja mungkin atas doa bapak juga. Yang keempat, mamah itu selalu ingin setiap kali pulang membawa sesuatu yang bisa diberikan pas memeluk anak-anak, makanya kalo sedang gak punya uang sama sekali suka bingung mau pulang. ‘ya Allah gimana ini mau pulang gak ada oleh-oleh yang bisa dibawa’. Trus yang kelima, kalian inget kan kalo mamah pulang kalian semua selalu ngumpul di kamar, yang satu tidur-tiduran di kelek (ketiak), yang satu dikaki, yang satu dimana, terus kita selalu ngobrol. Ya gitulah, sebenernya mah kalian baik-baik aja karena dijaga sama Allah. Boro-boro mamah mah kayak kalian, nemenin anak main. Apalagi liat kiki kayak tadi, sambil nyususin anak, trus kakak-kakaknya belajar, aduh mamah mah gak sanggup”
 
Begitulah sepenggal diskusi antara ibunda dengan saya. Sebuah diskusi yang mengingatkan saya pada beberapa perjalanan hidup saya. Saat saya ingin terjerumus pada jalan fujur, sepertinya doa ibu saat menitipkan kami kepada Allah serta keberkahan perjuangannya, telah menarik saya kembali untuk terus berusaha istiqomah dijalan taqwa. Menarik saya untuk terus berada bersama orang-orang yang berbuat kebaikan dan menyeru orang lain berbuat kebaikan. Meski terkadang diri ini merasa terseok-seok untuk terus berada dalam barisan orang-orang yang baik dan gemar melakukan kebaikan.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya pada perjuangan bapak dan mamah yang bergantian mejaga kami di waktu kecil saat tidak ada pembantu rumah tangga. Mamah akan berlari meninggalkan sekolah untuk menyusui anaknya, sementara bapak berangkat mengajar ke kampus. Lalu mamah kembali pergi mengajar saat bapak kembali pulang dari kampus. Saat kami remaja, mamah memang lebih sibuk. Mamah terpaksa pergi subuh dan pulang jam 9 malam, tetapi bapak menjaga kami, membimbing kami di rumah, juga ada uwa–kakak bapak yang turut mengasuh kami. Rasanya tanpa kerjasama mamah dan bapak, serta sistem pendukung dalam pengasuhan kami, entah bagimana kini jalan cerita kami.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya pada waktu-waktu berkualitas bersama mamah. Meski kami hanya dapat bertemu satu jam sebelum tidur, kami selalu berkumpul diatas kasur berbagi cerita bersama mamah. Mamah sering bercerita tentang nilai-nilai hikmah kehidupan, bercerita tentang masa kecilnya, masa lalunya, kegagalannya, serta apa saja kisah yang mengasah kepribadian dan visi hidup kami. Mamah selalu menanamkan mimpi-mimpi dan cita-cita besar dalam hidup kami. Mamah juga memaksakan diri untuk memenuhi kebutuhan kami agar kami dapat menempuh pendidikan dan meraih mimpi, walau saat itu penghasilan mamah terbilang sederhana sebagai seorang guru. Namun meski tanpa berceritapun, kami sudah dapat menangkap banyak hal tentang hakikat kehidupan dari sikap dan perjuangan hidupnya. Alhamdulillah kini perjuangannya sedikit demi sedkit terbayar dengan kebahagiaan melihat kemajuan taraf kehidupan anak-anaknya.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya akan kelelahan-kelelahan mamah. Meski kami dibantu dengan asisten rumah tangga, mamah selalu minta agar asisten rumah tangga fokus mengurusi keperluan kami, saat mamah tidak ada. Sementara untuk urusan pekerjaan rumah, mamah akan bekerja sama dengan ART dalam melaksanakannya. Sering kali melihat mamah masih mengepel lantai di tengah malam dan baru dapat tidur tengah malam. Meskipun mamah bekerja, mamah tidak serta merta menyerahkan semua pekerjaan dan urusan pengasuhan kepada ART. Mamah hanya menugaskan ART untuk membantu, sementara secara keseluruhan seluruh kehidupan rumah tangga dibawah menegemennya. Malu rasanya jika mulut ini mengeluh dengan keadaan ditengah kenyamanan saya sebagai ibu rumah tangga.
 
Diskusi ini juga mengingatkan saya bahwa keberadaan saya untuk beribadah kepada Allah dari dalam rumah belum menjamin kesuksesan saya dalam mengantarkan anak-anak menjadi pribadi yang sholih jika tanpa adanya perlindungan, keberkahan dan keridhoan Allah.
 
Ya…Setiap manusia memiliki cerita. Setiap manusia memiliki kisah takdirnya. Betapa bersyukurnya saya bisa mendapat kesempatan beribadah dari dalam rumah, berbakti kepada suami dan fokus mengurus dan mendidik anak-anak tanpa harus tertuntut memiliki banyak peran dalam membantu suami mencari nafkah. Maka menulis dan berbagi setiap hari adalah salah satu cara saya bersyukur kepada Allah atas segala nikmat karunia yang Allah berikan kepada saya. Namun setiap manusia memiliki kisah takdirnya. Ada banyak wanita seperti ibunda yang terpaksa harus keluar rumah untuk membantu sang imam dalam memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan perjuangan menyekolahkan anak-anak belum selesai saat ayahanda meninggal dunia.
 
Apapun kisah kita, inilah ladang surga yang harus kita nikmati, kita syukuri, dan kita manfaatkan sebagai sarana agar dapat meraih pahala surga. Inilah ladang surga kita, bukan milik mereka, dan takkan ada yang benar-benar memiliki kisah yang sama. Meski kisah kita berbeda, tapi kita para wanita dapat tetap memiliki tujuan yang sama. Bagaimana setiap cerita hidup kita dapat meningkatkan derajat kita di surga.
 
Batujajar Jawa Barat
Dari seorang istri yang berharap surga dari dalam rumahnya
Sampaikanlah Ilmu Dariku Walau Satu Ayat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here