Ayah Kepala Sekolah [Bagian 01]

0
412

Jika kita bicara tentang masalah anak, nama ibu pasti dibawa-dibawa. Apalagi kalau anak udah bikin ulah. Mecahin kaca jendela tetangga, cabut dari sekolah, nongkrong ampe malam di luar rumah, nempelin permen karet di bangku guru, ngintipin orang mandi. Sampai yang paling ekstrim: jadi pecandu narkoba, maniak pornografi, hingga menghilangkan nyawa orang lewat aksi tawuran atau pemalakan.
Kita akan berteriak “Ibunya mana nih? Bisa gak sih ngurus anak?”. Sampai-sampai si ayah juga ikut nyalahin ibu sambil ngancam “Kalau gak bisa urus anak, apa perlu aku buka cabang kayak alfamart?”. Modus poligami nih. Cari-cari kesalahan istri biar bisa nikah lagi hehe.. Lagian pada dasarnya semua istri siap dimadu kok. Asal suaminya siap diracun 😀 .
Tapi inti pembicaraan kita bukan tentang poligami. Kita lagi bicarakan dilema ibu yang sering disalahkan jika anak bermasalah. Hal ini karena dogma yang berkembang di masyarakat menyatakan bahwa “ibu madrasah pertama seorang anak”. Ini benar. Tidak diragukan lagi. Pertanyaannya, peran ayah bagaimana? Padahal layaknya madrasah, tidak akan berjalan sukses kalau tidak ada kepala sekolahnya. Itulah kenapa pepatah di atas mestinya berbunyi begini “Ibu madrasah pertama seorang anak dan ayah adalah kepala sekolahnya”. Nah ini lebih adil. Masing-masing punya peran. Ayah jadi tahu tugasnya bahwa ia punya Madrasah yang akan menentukan kesuksesan anaknya di masa depan. Madrasah ini namanya ibu.
Kondisi saat ini, banyak madrasah yang tak punya kepala sekolah. Sebab ayah yang seharusnya menjalankan tugas ini tak paham perannya. Jadilah ibu mengurus anak seorang diri tanpa orientasi, arahan dan bimbingan dari kepala sekolah. Sehingga mengasuh anak sekedar menghabiskan waktu saja seraya berkeluh kesah “Mengasuh anak kok susah banget ya?”. Dan saya biasanya menjawab : Iya, mengasuh anak memang susah sebab hadiahnya adalah surga. Kalau mengasuh anak itu mudah, maka hadiahnya cuma voucher pulsa 😀
Yang saya bahas disini tentu keluarga yang status ayah dan ibunya masih bersama. Bukan yang single parent. Itu lain perkara. Nah, kembali ke pembahasan Ayah kepala sekolah, maka sudah semestinya ayah jalankan fungsi ini di dalam rumah. Sebagaimana umumnya kepala sekolah yang memang jarang berinteraksi dengan anak, namun tetap jalankan tugasnya selaku kepala sekolah. Minimal ada 4 tugas kepala sekolah yang menjadi tanggung jawab ayah demi terwujudnya kualitas anak yang unggul. Keempat tugas itu di antaranya : 
1. Membuat suasana aman dan nyaman sekolah 
2. Menentukan visi dan misi 
3. Melakukan evaluasi 
4. Menegakkan aturan
Keempat hal ini akan kita bahas satu persatu di tulisan berikutnya. Keempat tugas inilah yang sejatinya harus ditunaikan oleh ayah sebagai bentuk kepedulian terhadap anak. Anak sebagai siswa didik merasakan kehadiran kepala sekolah yang mengurus pertumbuhan mereka baik secara fisik, psikis maupun spiritual. Begitu juga ibu. Memiliki pemandu yang mengarahkan tercapainya tujuan pengasuhan. Tak merasa dibiarkan seorang diri mengurus anak.
Itulah kenapa, jika ayah hanya mengurusi masalah fisik rumah semisal genteng bocor, TV rusak, lampu mati, maka sejatinya ini bukan ayah kepala sekolah. Lebih tepatnya disebut ayah marbot atau penjaga sekolah. Maka, para ayah, mari tingkatkan derajat diri menjadi ayah kepala sekolah (bersambung)
Oleh: Bendri Jaisyurrahman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here